Thursday, 18 April 2013

Around Us - Calaposthrotte Tragedy #Phase2


“Apapun itu, beri tahukan padaku jika memang ada yang kau risaukan” ujar Ace saat akan meninggalkan makam Viena. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Setelah nyekar, dia mengantarkan Mevi pulang ke rumah neneknya. Ya, orang tua mereka sudah tiada, dan kini mereka diasuh oleh nenek mereka. Tak lama kemudian, Ace pamit dan pulang ke rumahnya.

-xxxxxxxXXXXXxxxxxxx-


“KAK ACE !!” teriak Mevi saat melihat Ace baru keluar dari ruang kelasnya. Ace menoleh dan heran, kenapa Mevi ada disini? “Ada apa Mev?”. “Kak, aku mau cerita. Penting! Di pohon belakang aja ya ?”. Ace cuman mengangguk dan mengikuti Mevi ke belakang.

“Kamu mau cerita apa Mev?” tanya Ace heran, “Kak! Kemarin aku kayak liat sosok kak Viena di kamarnya..”

Jderr! Bagaikan petir di siang bolong, wajah Ace pucat seketika. Pasti memang ada apa-apa di balik kematian sahabat karibnya itu. “Mev, saat kau melihatnya, apa yang sedang dia lakukan?” tanyaku penasaran, “Kakak sedang duduk di depan komputernya dan memandangi foto-foto yang ada di sebelah komputernya, terus dia mengambil beberapa kartu dari tumpukan remi-nya” ungkap Mevi, “Apa semua barang-barang itu belum tersentuh samasekali oleh siapapun?” tanya Ace, “Belum Kak, karena kemarin aku langsung menutup kamar kak Viena”, “Yasudah, ayo kita kerumah nenekmu sekarang.”

Sesampainya mereka di rumah nenek Mevi, Ace langsung memasuki kamar Viena dan mengecek meja tempat komputer dan foto kakek dan nenek buyut Viena, juga foto sekeluarga Viena beserta kartu remi yang diceritakan oleh Mevi. Ternyata benar, ada beberapa kartu berserakan diatas meja itu, beberapa ada yang terbuka dan tertutup, sementara sisa kartu yang lain masih tertata rapi dibelakang pigura foto. Kartu tertutup yang ditindas jack hati, dibawah keduanya ada sebuah kartu yang tertutup, kemudian disebelahnya ada beberapa kartu yang tertutup dan disebelah kartu-kartu yang tertutup tadi ada 3 kartu tertutup dan kartu 2 dan As keriting terbuka. Penasaran, akhirnya Ace membuka semua kartu yang tertutup tadi. Hasilnya, sebuah kartu queen keriting yang diatasnya ada kartu king hati yang ditindas jack hati, kemudian kartu 10-6 keriting dan yang terakhir adalah kartu 5 wajik, 4-2 dan As keriting.

Kalau dugaan Ace benar, kartu yang tertutup adalah kartu orang-orang yang sudah mati, kemudian Ace menggabungkan hasil kartu tadi dengan foto orang-orang yang ada di pigura. King hati dan queen keriting ditindas jack hati, kakek dan nenek buyut Viena yang ditindas saudara kakek buyut viena, 10-6 keriting keturunan nenek buyut viena yang sudah tiada, 5 wajik sesuai dengan ayah Viena yang telah meninggal adalah anak ke 5 dari 5 bersaudara, 4 keriting sesuai dengan tanggal lahir ibu Viena yang sudah tiada juga merupakan keturunan nenek buyut Viena, 3 keriting adalah Viena yang sudah tiada, 2 dan As keriting, sepertinya adalah kedua adik Viena.

“Apa ini pembunuhan berantai?” ucap Ace penuh selidik, “Mevi, sampai kapanpun jangan pernah kamu rubah urutan kartu ini sebelum aku minta” perintah Ace pada Mevi. Mevi hanya mengangguk menyanggupi. Ace berfikir keras, ada apa sampai ada kejadian pembunuhan berantai seperti ini? Ditengah-tengah konsentrasinya, handphone Ace bergetar, ternyata telfon dari Danny, pacar Ace.

“Hey, kamu dimana? Gak les? Kok tadi pulang sekolah langsung ngilang?” ucap Danny dari seberang. “Iya aku les kok, tapi sekarang aku masih di rumah Viena” jawab Ace, “Hmm.. kayaknya ada masalah ya? Aku jemput kesana deh.” fikir Danny, “Iya, nanti aku ceritain di tempat les, oke? Bye.” ucap Ace memutus percakapan, “Oke, bye.” Akhirnya keduanya menyudahi percakapan singkat mereka.

Seperempat jam kemudian Danny sampai dan menjemput Ace, Ace pamit pada semua yang ada disana dan meyakinkan Mevi kalau dia akan berusaha membantu menyelesaikan masalah Viena. Sesampainya di tempat les, Ace menceritakan semuanya pada Danny dan kemudian ia mulai membuka kartu reminya untuk mencari petunjuk. Awalnya Ace merangkai kartu sesuai dengan kartu yang menjadi petunjuk di kamar Viena, kemudian dia menjelaskan semua arti kartu itu pada Danny. Kemudian, Ace menaruh dua kartu di atas tumpukan kartu 10-6 keriting dan dua kartu di tumpukan kartu yang melambangkan keluarga Viena. Saat membuka dua kartu baru itu, Ace terkejut, pasangan kartu pertama adalah joker dan 10 hati, sementara pasangan kartu yang satu lagi adalah joker dan satu kartu yang masih tertutup ketika Eddie datang menghampiri keduanya, cepat-cepat Ace mengumpulkan semua kartu yang ada kecuali kartu yang masih tertutup tadi.

“Hey! Lagi baca tarot nih?” ucap Eddie saat menghampiri keduanya, kemudian dia mengambil satu kartu yang masih tertutup tadi dan mengatakan sesuatu yang tidak bisa Ace percaya.

“Wah! Ini kan kartuku?” ujar Eddie lantang, “Tujuh hati, tiap kali aku diramal orang, kartu ini selalu muncul! Hahaha.. kau tau, sejak saat itu kuanggap ini kartuku, abis nomernya sama kayak bulan kelahiranku” ungkap Eddie. Yah, satu lagi petir di siang bolong, Freddie Hartenz dan Frederick Hartenz, si kembar siam sahabat Ace, Danny dan Viena, berkata seperti itu? Jangan-jangan??

“Ngomong apa sih kamu ini Ed, gak penting banget!” tukas Erick yang tiba-tiba muncul dan mengacak-acak rambut Eddie. “Untung kartuku gak sama kayak kamu, kalo iya aku gak bakalan bisa hidup dengan nasib seperti orang kayak kamu.” Ledek Erick kasar pada kembarannya yang rada unlucky itu. Loh? Sebentar ? Apa katanya? Kartu Erick gak sama kayak Eddie? Padahal seharusnya kalo kembar kartunya bisa berdua, batin Ace heran. “Emang kartumu apa, Rick?” tanya Ace penuh selidik, “Ace Heart, bukan tanggal ato bulan lahir, tapi posisiku sebagai anak pertama karena yang keluar aku duluan daripada si dungu ini.” Ejek Erick.

 Ace semakin bingung, karena itu selama les dia tidak bisa menyimak pelajaran dengan tenang samasekali. Setelah les selesai, Danny mengantarkan Ace pulang ke rumahnya dan kemudian keduanya mulai mencari jawaban dari teka-teki itu. “Coba kamu urutkan semua kartu tadi, sekalian sama joker dan kartu 10 hati sama kartunya si Eddie. Kemudian baru acak lagi dan keluarkan satu kartu, yang mungkin bakan keluar kartunya si Erick” usul Danny. Ace menurut dan melakukannya, saat membuka kartu baru, yang keluar bukan As hati milik Erick, Ace mencoba lagi dan lagi, tapi kartu Erick tidak pernah keluar, dan kartu-kartu yang keluar semuanya bukanlah kartu hati.

“Berarti Erick tidak bersalah, dan tidak ada sangkur pautnya dengan semua ini walaupun dia saudara kembar Eddie” simpul Danny, “Yah, aku tahu, tapi satu hal saja yang tidak bisa aku percaya” jawab Ace, “Memangnya apa yang kau pikirkan?” ucap Danny heran. “Pikirkan, king hati dan queen keriting dibawah jack hati, berarti saudara kakek buyut Viena menindas atau tepatnya membunuh kakek dan nenek buyut Viena. Kartu Erick dan Eddie adalah kartu yang sama dengan kakek buyut Viena” jelas Ace, “Jadi kau berfikiran kalau Eddie dan Erick adalah keturunan saudara kakek buyut Viena, dan Eddie bisa kamu anggap sebagai tersangka penerus pembunuhan berantai yang terjadi diantara kedua keluarga itu.” simpul Danny, “Tapi apa iya? Bukankah Eddie yang selama ini kita kenal sedang jatuh cinta pada Viena?” potong Danny segera, “Well, we don’t know what they think, right?” jelas Ace, “Tapi apa yang sebenarnya dipermasalahkan oleh kedua keluarga itu?” fikir Ace. “Aku juga tak tau, kita cari tahu saja lagi besok. Sekarang mulai gelap, aku pamit, sampai ketemu besok di sekolah, daahh..” pamit Danny, “Dadahh...” balas Ace mengantarkan kepulangan kekasihnya.

Setelah melihat pacarnya pergi, Ace merasa ia enggan masuk ke dalam rumah. Entah kenapa ia masih merasa ingin diluar. Akhirnya dia berjalan keluar pagar dan mulai melangkah untuk mencari penyegaran. Baru beberapa langkah, ia seperti melihat sosok Viena akan menyebrang dan menoleh ke kiri. Ia tidak bisa percaya, kenapa Viena sekarang ada disitu? Ketika Viena mulai melangkah untuk menyeberang, tiba-tiba dari kejauhan Ace melihat sebuah mini bus lewat dengan kecepatan tinggi..

“Awass Vie !!!” teriak Ace sambil berlari dengan kencang dan kemudian menarik Viena agar tidak tertabrak truk tadi.

“Teeeeeeeeeeeeeeettttttttttttttttttttttttttt............” bunyi klakson mini bus memekakkan telinga, ketika Viena berhasil ditarik oleh Ace. Nafas Ace naik-turun tidak karuan setelah kejadian tadi.

“Kamu gak apa-apa Vie?” tanya Ace, namun ia terkejut ketika yang dilihatnya adalah Mevi, bukan Viena. “Loh? Kok? Kok kamu Mev?” ucap Ace terkejut, “Apa kak? Kak Viena? Ada apa kak?” tanya Mevi heran. Setelah mengatur nafasnya, Ace menceritakan semuanya pada Mevi. Mevi terkejut, dan Ace berfikir kalau Viena menampakkan diri karena ingin menyelamatkan adiknya itu. Mevi menangis dan kemudian ia menceritakan kenapa ia ada disana, ternyata dia baru selesai kerja kelompok di rumah temannya yang kebetulan letaknya di sebelah rumah Ace. Setelah kejadian itu, Ace mengantarkan Mevi pulang ke rumah neneknya.

No comments:

Post a Comment