“Apapun
itu, beri tahukan padaku jika memang ada yang kau risaukan” ujar Ace saat akan
meninggalkan makam Viena. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Setelah
nyekar, dia mengantarkan Mevi pulang ke rumah neneknya. Ya, orang tua mereka
sudah tiada, dan kini mereka diasuh oleh nenek mereka. Tak lama kemudian, Ace
pamit dan pulang ke rumahnya.
-xxxxxxxXXXXXxxxxxxx-
“KAK ACE !!” teriak Mevi saat melihat Ace baru keluar dari ruang kelasnya. Ace menoleh dan heran, kenapa Mevi ada disini? “Ada apa Mev?”. “Kak, aku mau cerita. Penting! Di pohon belakang aja ya ?”. Ace cuman mengangguk dan mengikuti Mevi ke belakang.
“Kamu
mau cerita apa Mev?” tanya Ace heran, “Kak! Kemarin aku kayak liat sosok kak
Viena di kamarnya..”
Jderr!
Bagaikan petir di siang bolong, wajah Ace pucat seketika. Pasti memang ada
apa-apa di balik kematian sahabat karibnya itu. “Mev, saat kau melihatnya, apa
yang sedang dia lakukan?” tanyaku penasaran, “Kakak sedang duduk di depan
komputernya dan memandangi foto-foto yang ada di sebelah komputernya, terus dia
mengambil beberapa kartu dari tumpukan remi-nya” ungkap Mevi, “Apa semua barang-barang
itu belum tersentuh samasekali oleh siapapun?” tanya Ace, “Belum Kak, karena
kemarin aku langsung menutup kamar kak Viena”, “Yasudah, ayo kita kerumah nenekmu
sekarang.”
Sesampainya
mereka di rumah nenek Mevi, Ace langsung memasuki kamar Viena dan mengecek meja
tempat komputer dan foto kakek dan nenek buyut Viena, juga foto sekeluarga Viena
beserta kartu remi yang diceritakan oleh Mevi. Ternyata benar, ada beberapa
kartu berserakan diatas meja itu, beberapa ada yang terbuka dan tertutup,
sementara sisa kartu yang lain masih tertata rapi dibelakang pigura foto. Kartu
tertutup yang ditindas jack hati, dibawah keduanya ada sebuah kartu yang
tertutup, kemudian disebelahnya ada beberapa kartu yang tertutup dan disebelah
kartu-kartu yang tertutup tadi ada 3 kartu tertutup dan kartu 2 dan As keriting
terbuka. Penasaran, akhirnya Ace membuka semua kartu yang tertutup tadi.
Hasilnya, sebuah kartu queen keriting yang diatasnya ada kartu king hati yang
ditindas jack hati, kemudian kartu 10-6 keriting dan yang terakhir adalah kartu
5 wajik, 4-2 dan As keriting.
Kalau
dugaan Ace benar, kartu yang tertutup adalah kartu orang-orang yang sudah mati,
kemudian Ace menggabungkan hasil kartu tadi dengan foto orang-orang yang ada di
pigura. King hati dan queen keriting ditindas jack hati, kakek dan nenek buyut
Viena yang ditindas saudara kakek buyut viena, 10-6 keriting keturunan nenek
buyut viena yang sudah tiada, 5 wajik sesuai dengan ayah Viena yang telah
meninggal adalah anak ke 5 dari 5 bersaudara, 4 keriting sesuai dengan tanggal
lahir ibu Viena yang sudah tiada juga merupakan keturunan nenek buyut Viena, 3
keriting adalah Viena yang sudah tiada, 2 dan As keriting, sepertinya adalah
kedua adik Viena.
“Apa
ini pembunuhan berantai?” ucap Ace penuh selidik, “Mevi, sampai kapanpun jangan
pernah kamu rubah urutan kartu ini sebelum aku minta” perintah Ace pada Mevi.
Mevi hanya mengangguk menyanggupi. Ace berfikir keras, ada apa sampai ada
kejadian pembunuhan berantai seperti ini? Ditengah-tengah konsentrasinya, handphone Ace bergetar, ternyata telfon
dari Danny, pacar Ace.
“Hey,
kamu dimana? Gak les? Kok tadi pulang sekolah langsung ngilang?” ucap Danny
dari seberang. “Iya aku les kok, tapi sekarang aku masih di rumah Viena” jawab
Ace, “Hmm.. kayaknya ada masalah ya? Aku jemput kesana deh.” fikir Danny, “Iya,
nanti aku ceritain di tempat les, oke? Bye.” ucap Ace memutus percakapan, “Oke,
bye.” Akhirnya keduanya menyudahi percakapan singkat mereka.
Seperempat
jam kemudian Danny sampai dan menjemput Ace, Ace pamit pada semua yang ada
disana dan meyakinkan Mevi kalau dia akan berusaha membantu menyelesaikan
masalah Viena. Sesampainya di tempat les, Ace menceritakan semuanya pada Danny
dan kemudian ia mulai membuka kartu reminya untuk mencari petunjuk. Awalnya Ace
merangkai kartu sesuai dengan kartu yang menjadi petunjuk di kamar Viena,
kemudian dia menjelaskan semua arti kartu itu pada Danny. Kemudian, Ace menaruh
dua kartu di atas tumpukan kartu 10-6 keriting dan dua kartu di tumpukan kartu
yang melambangkan keluarga Viena. Saat membuka dua kartu baru itu, Ace
terkejut, pasangan kartu pertama adalah joker dan 10 hati, sementara pasangan
kartu yang satu lagi adalah joker dan satu kartu yang masih tertutup ketika Eddie
datang menghampiri keduanya, cepat-cepat Ace mengumpulkan semua kartu yang ada
kecuali kartu yang masih tertutup tadi.
“Hey!
Lagi baca tarot nih?” ucap Eddie saat menghampiri keduanya, kemudian dia
mengambil satu kartu yang masih tertutup tadi dan mengatakan sesuatu yang tidak
bisa Ace percaya.
“Wah!
Ini kan kartuku?” ujar Eddie lantang, “Tujuh hati, tiap kali aku diramal orang,
kartu ini selalu muncul! Hahaha.. kau tau, sejak saat itu kuanggap ini kartuku,
abis nomernya sama kayak bulan kelahiranku” ungkap Eddie. Yah, satu lagi petir
di siang bolong, Freddie Hartenz dan Frederick Hartenz, si kembar siam sahabat
Ace, Danny dan Viena, berkata seperti itu? Jangan-jangan??
“Ngomong
apa sih kamu ini Ed, gak penting banget!” tukas Erick yang tiba-tiba muncul dan
mengacak-acak rambut Eddie. “Untung kartuku gak sama kayak kamu, kalo iya aku
gak bakalan bisa hidup dengan nasib seperti orang kayak kamu.” Ledek Erick
kasar pada kembarannya yang rada unlucky
itu. Loh? Sebentar ? Apa katanya? Kartu Erick gak sama kayak Eddie? Padahal
seharusnya kalo kembar kartunya bisa berdua, batin Ace heran. “Emang kartumu
apa, Rick?” tanya Ace penuh selidik, “Ace Heart, bukan tanggal ato bulan lahir,
tapi posisiku sebagai anak pertama karena yang keluar aku duluan daripada si
dungu ini.” Ejek Erick.
Ace semakin bingung, karena itu selama les dia
tidak bisa menyimak pelajaran dengan tenang samasekali. Setelah les selesai,
Danny mengantarkan Ace pulang ke rumahnya dan kemudian keduanya mulai mencari
jawaban dari teka-teki itu. “Coba kamu urutkan semua kartu tadi, sekalian sama
joker dan kartu 10 hati sama kartunya si Eddie. Kemudian baru acak lagi dan
keluarkan satu kartu, yang mungkin bakan keluar kartunya si Erick” usul Danny.
Ace menurut dan melakukannya, saat membuka kartu baru, yang keluar bukan As
hati milik Erick, Ace mencoba lagi dan lagi, tapi kartu Erick tidak pernah
keluar, dan kartu-kartu yang keluar semuanya bukanlah kartu hati.
“Berarti
Erick tidak bersalah, dan tidak ada sangkur pautnya dengan semua ini walaupun
dia saudara kembar Eddie” simpul Danny, “Yah, aku tahu, tapi satu hal saja yang
tidak bisa aku percaya” jawab Ace, “Memangnya apa yang kau pikirkan?” ucap
Danny heran. “Pikirkan, king hati dan queen keriting dibawah jack hati, berarti
saudara kakek buyut Viena menindas atau tepatnya membunuh kakek dan nenek buyut
Viena. Kartu Erick dan Eddie adalah kartu yang sama dengan kakek buyut Viena”
jelas Ace, “Jadi kau berfikiran kalau Eddie dan Erick adalah keturunan saudara
kakek buyut Viena, dan Eddie bisa kamu anggap sebagai tersangka penerus
pembunuhan berantai yang terjadi diantara kedua keluarga itu.” simpul Danny,
“Tapi apa iya? Bukankah Eddie yang selama ini kita kenal sedang jatuh cinta
pada Viena?” potong Danny segera, “Well,
we don’t know what they think, right?” jelas Ace, “Tapi apa yang sebenarnya
dipermasalahkan oleh kedua keluarga itu?” fikir Ace. “Aku juga tak tau, kita
cari tahu saja lagi besok. Sekarang mulai gelap, aku pamit, sampai ketemu besok
di sekolah, daahh..” pamit Danny, “Dadahh...” balas Ace mengantarkan kepulangan
kekasihnya.
Setelah
melihat pacarnya pergi, Ace merasa ia enggan masuk ke dalam rumah. Entah kenapa
ia masih merasa ingin diluar. Akhirnya dia berjalan keluar pagar dan mulai melangkah
untuk mencari penyegaran. Baru beberapa langkah, ia seperti melihat sosok Viena
akan menyebrang dan menoleh ke kiri. Ia tidak bisa percaya, kenapa Viena
sekarang ada disitu? Ketika Viena mulai melangkah untuk menyeberang, tiba-tiba
dari kejauhan Ace melihat sebuah mini bus lewat dengan kecepatan tinggi..
“Awass
Vie !!!” teriak Ace sambil berlari dengan kencang dan kemudian menarik Viena
agar tidak tertabrak truk tadi.
“Teeeeeeeeeeeeeeettttttttttttttttttttttttttt............”
bunyi klakson mini bus memekakkan telinga, ketika Viena berhasil ditarik oleh
Ace. Nafas Ace naik-turun tidak karuan setelah kejadian tadi.
“Kamu
gak apa-apa Vie?” tanya Ace, namun ia terkejut ketika yang dilihatnya adalah
Mevi, bukan Viena. “Loh? Kok? Kok kamu Mev?” ucap Ace terkejut, “Apa kak? Kak
Viena? Ada apa kak?” tanya Mevi heran. Setelah mengatur nafasnya, Ace
menceritakan semuanya pada Mevi. Mevi terkejut, dan Ace berfikir kalau Viena
menampakkan diri karena ingin menyelamatkan adiknya itu. Mevi menangis dan
kemudian ia menceritakan kenapa ia ada disana, ternyata dia baru selesai kerja
kelompok di rumah temannya yang kebetulan letaknya di sebelah rumah Ace. Setelah
kejadian itu, Ace mengantarkan Mevi pulang ke rumah neneknya.
No comments:
Post a Comment