Karena
kejadian kemarin, hari ini Ace berniat untuk pergi lagi ke rumah nenek Viena
lagi untuk mencari informasi, setelah bel tanda pulang berbunyi ia diantar
Danny ke rumah nenek Viena, beruntung hari itu ia tidak memiliki jadwal les
sehingga Ace berniat untuk menginap di rumah nenek Viena malam ini. Sesampainya
disana, ia langsung memasuki kamar Viena untuk menyelidiki, mungkin ada yang
petunjuk yang ia lewatkan,
tapi ternyata hasilnya nihil. Akhirnya dia pasrah dan kembali memandangi tatanan kartu yang ada di meja komputer. Rasanya ada yang ganjil, batinnya. Oh, ya! Dia baru ingat kalau dia samasekali belum menyentuh kartu 2 dan As keriting, ketika Ace mengambil dua kartu itu, ada satu kartu jatuh tertutup dari belakang dua kartu tersebut. Ace membaliknya dan ternyata..
tapi ternyata hasilnya nihil. Akhirnya dia pasrah dan kembali memandangi tatanan kartu yang ada di meja komputer. Rasanya ada yang ganjil, batinnya. Oh, ya! Dia baru ingat kalau dia samasekali belum menyentuh kartu 2 dan As keriting, ketika Ace mengambil dua kartu itu, ada satu kartu jatuh tertutup dari belakang dua kartu tersebut. Ace membaliknya dan ternyata..
Ace
Spade.. KARTU ACE !! kartu yang melambangkan dirinya !!
Ace
kaget dan meletakkan kartu-kartu itu sesuai tempatnya, 2 dan As keriting, lalu
As waru. Kalau dugaannya benar, dari urutan kejadian yang ia tahu, orang-orang
yang akan dibunuh selanjutnya adalah Mevi namun berhasil ia selamatkan kemarin,
kemudian Vheea dan dirinya. Ace bingung, kenapa dia juga kena? Apa mungkin ada
sesuatu dari keluarga Calaposthrotte yang berhubungan dengannya? Untuk menjawab
pertanyaan itu dia butuh bukti nyata, tapi apa mungkin dia menanyakan pada
nenek Viena? Sedangkan nenek Viena yang masih hidup sekarang adalah ibu dari
ayah Viena yang berarti ia bukan anggota keturunan nenek buyut Viena.
Lama
ia berfikir panjang, akhirnya ia menemukan ide. Ditemuinya nenek Viena dan
menanyakan apa ia memiliki album foto seluruh keturunan keluarga Calaposthotte.
Dan ternyata album itu ada di rak buku yang cukup besar di ruang tengah rumah
itu. Saat membukanya, di halaman pertama terpampang foto kakek dan nenek buyut
Viena, pada halaman kedua, ada tiga gadis dan dua anak laki-laki yang Ace fikir
itu adalah nenek Viena dan saudaranya, di halaman ketiga, ada foto ibu Viena
dan dua paman Viena, halaman selanjutnya, adalah foto Viena dan kedua adiknya,
itu saja. Itu saja? Tak ada informasi lainnya? Ace putus asa sampai pada
akhirnya dia mencoba untuk menulis nama semua anggota keluarga Calaposthrotte.
Dari
informasi Mevi, nama-nama keluarga mereka adalah Jeannette Terrytera nenek
buyut Viena; Enny Murray nenek Viena dan saudara-saudaranya, Wendy Murray, Eva Murray,
Leonard Murray dan Anderson Murray; Noel Heradera ibu Viena dan paman Viena
bernama Derek Heradera dan George Heradera; dan kemudian Eviena Calaposthrotte
dan adik-adiknya, Meviera Calaposthrotte dan Zavheea Calaposthrotte. Iseng, ia
mengurutkan nama-nama itu kebawah, dan betapa terkejutnya Ace ketika nama-nama
itu membentuk sebuah kalimat, J-E-W-E-L-A-N-D-G-E-M-Z. Jewel and Gemz?
Perhiasan dan permata? Apa maksudnya? Apa pembunuhan berantai ini
mempermasalahkan tentang harta? Harta apa yang ada sangkur pautnya dengan
dirinya hingga ia juga akan menjadi sasaran selanjutnya?
Glek!
Akhirnya Ace ingat sesuatu, kemudian ia segera menemui nenek Viena. “Nek,
bagaimana kejadian meninggalnya Viena?” tanya Ace, “Ah, hari itu.. saat itu
sudah mulai larut, tapi Viena tetap meminta ijin untuk keluar sebentar, dan
kemudian dia kecelakaan.” Ungkap nenek Viena sedih mengingat kepergian cucunya
itu. “Sudah kuduga, aku permisi dulu nek. Aku mau keluar sebentar.” Kata Ace
seraya mulai melangkah keluar rumah.
Saat
tiba di tempat tujuannya, Ace segera menanyakan ke orang-orang yang ada di
sekitar tempat itu tentang kecelakaan yang menewaskan sahabatnya itu. Seorang
pemuda menceritakan pada Ace tentang kejadian di malam itu. “Waktu itu, teman
adek datang kesini saat mulai gelap. Aku heran, biasanya adek dan teman adek
kan ketemu di sana setelah pulang sekolah, tapi kenapa dia malam-malam ke sini?
Kemudian ada mobil dari arah yang berlawanan datangg dengan kcepatan tinggi dan
menabrak teman adek.” Jelas pemuda itu, “Baiklah, terima kasih.” ucap Ace.
Kemudian dia berjalan ke tempat yang pemuda tadi maksud. Ya, tempat itu adalah
pohon belakang sekolah yang selalu dia gunakan untuk bermain bersama Viena
sepulang sekolah sejak mereka masih kelas 2 SD.
Di
samping pohon itu ada sebuah selokan yang cukup dalam, namun ia dan Viena bisa
memasukinya, di selokan itu ada sebuah retakan berbentuk lubang kecil yang
mereka pakai untuk menyimpan maskot persahabatan mereka. Ace masuk ke selokan
itu dan mengambil kotak kecil tempat mereka menaruh maskot itu. “Now let’s see, whats wrong with this thing.”
Ujar Ace sambil tersenyum puas dan kemudian kembali ke rumah nenek Viena
No comments:
Post a Comment