Thursday, 18 April 2013

Around Us - Calaposthrotte Tragedy #Phase1


 Terik matahari di siang itu tak berbeda dari biasanya, cukup panas hingga mungkin jika kau iseng, kau bisa memanggang barbecue  atau jenis-jenis sausage lainnya, namun ia tetap tak bergeming untuk pindah dari tempat itu, hanya saja kali ini dia berdiri sendirian di bawah pohon yang mengukir semua kenangan indah bersamanya. Eviena Calaposthrotte kini telah pergi ke sisi-Nya, menyusul kepergian kedua orang tuanya dan meninggalkan kedua adiknya, Meviera Calaposthrotte dan Zavheea Calaposthrotte. Dan tentunya, Viena juga meninggalkannya Nazel D’Mort  yang kini meratapi kepergian sahabat yang telah ia anggap sebagai saudaranya, sahabat sejatinya.

Namun  Ace, nama panggilan Nazel, merasakan keganjilan ketika mendengar berita kematian Viena, bahkan sampai saat ini perasaanya masih tidak enak dan ia belum menitikkan setetespun air mata karena kepergian sahabatnya itu. Sebenarnya, ia merasa sangat bersalah karena tiga hari yang lalu, dibawah pohon itu, ketika ia menunggu kedatangan Viena sepulang sekolah, ia membuka kartu remi-nya yang biasa ia gunakan sebagai tarot untuk meramalkan semua yang ingin dia ketahui. Ia penasaran akan ramalan apa yang akan ia dapatkan hari ini, tapi ketika ia mendapatkan hasilnya, ia cukup terkejut pada kartu di posisi ke-3 dalam hexagram hasil ramalannya.

Dalam hexagram ramalannya, posisi nomor 3 adalah ramalan tentang masa depan, dan kartu di posisi itu adalah kartu 3 keriting, yang selama ini dia anggap sebagai lambang Viena, namun tiba-tiba salah satu kartu sisa yang dipegang Ace jatuh tertutup diatas kartu Viena, dan ketika Ace membuka kartu itu, itu adalah kartu joker, yang kebetulan bergambar tengkorak berjubah hitam dengan sabit yang bisa dibilang adalah lambang dari dewa kematian. Belum selesai ia melakukan pembacaannya, Viena datang dan ia menyembunyikan semuanya dari Viena, karena Viena juga memiliki kemampuan menggunakan tarot dan melihat sesuatu yang lain seperti Ace. Ia takut jika yang diramalkannya tadi adalah tanggal kematian Viena.

“Ah.. sudahlah, mungkin kau memang ditakdirkan untuk meninggalkanku kawan !” ucap Ace menenangkan dirinya, kemudian ia pergi menuju halaman depan sekolah melewati gerbang belakang sekolahnya, dan kebetulan melewati area SD yang  juga tergabung di kompleks sekolahnya. Pada jam-jam ini biasanya area SD sudah mulai sepi karena mereka pulang 2jam lebih awal dari jam pulang anak SMP. Tapi kemudian, dia mendengar suara isak tangis dari sebuah ruang kelas yang baru saja ia lewati, ketika ia melihat kelas itu, ia teringat bahwa kelas itu adalah kelasnya dengan Viena saat kelas 3 SD. Penasaran, Ace mengintip dari balik pintu, siapa yang menangis?

Ace tersentak. “Vi..e..” ucap Ace kaku dan terkejut melihat sosok yang mirip Viena dari belakang, sedang menagis terisak-isak..

“Kak Ace ?”

Ace terkejut, ia menoleh dan melihat orang yang mengagetkannya. Oh, ternyata Mevi.

“Oh, Mevi. Ada apa Mev ??” ujar Ace agak kaku setelah melihat sosok Viena tadi dan dikagetkan dengan kehadiran Mevi.

“Kakak ngapain disini kak ??” tanya Mevi penasaran. “Engg.. anu.. tadi kakak mau ke depan sehabis dari pohon di belakang yang biasanya jadi tempat ketemuanku sama kakakmu, kebetulan kakak lewat kelas ini, ini kelas kakak sama kakakmu waktu kelas 3 SD.” jawab Ace, berusaha untuk tidak memberi tahu Mevi tentang apa yang baru saja ia lihat.

“Oh, ini sekarang kelasnya Vheea kak. O iya kak, kakak udah nyekar ke makam kak Viena ?”

“Belum, ini aku baru mau kesana. Bareng yuk ?”

“Boleh, ayo kak.” Mevi menggandeng tangan Ace, sementara Ace mencoba melirik ke dalam kelas. Ternyata sudah tidak ada, berarti tadi itu hanya halusinasinya saja.

Di perjalanan, Ace menulis sesuatu di kertas yang mungkin akan ia jadikan surat untuk Viena. Sementara Mevi bingung, kenapa Ace melakukan hal itu.

“Nulis surat buat siapa kak ?” tanya Mevi penasaran. “Surat buat kakakmu Mev”. “Loh? Memangnya kak Viena bisa baca surat kakak ?”. “Entahlah, tapi kurasa aku perlu menuliskannya jika aku ingin bicara padanya.”. “Bukannya gak perlu ya kak? Aku rasa ikatan batin kakak dengan kak Viena cukup erat. Kalian kan sudah hampir bisa dibilang pinang dibelah dua, kalian mirip dan kalian akrab sekali.” Ace hanya menoleh dan tersenyum menyindir dirinya sendiri. “Benar juga, ah biarkan, sudah hampir selesai kok. Hehehe.. ”

No comments:

Post a Comment