Namun Ace, nama panggilan Nazel, merasakan
keganjilan ketika mendengar berita kematian Viena, bahkan sampai saat ini
perasaanya masih tidak enak dan ia belum menitikkan setetespun air mata karena
kepergian sahabatnya itu. Sebenarnya, ia merasa sangat bersalah karena tiga
hari yang lalu, dibawah pohon itu, ketika ia menunggu kedatangan Viena sepulang
sekolah, ia membuka kartu remi-nya yang biasa ia gunakan sebagai tarot untuk
meramalkan semua yang ingin dia ketahui. Ia penasaran akan ramalan apa yang akan
ia dapatkan hari ini, tapi ketika ia mendapatkan hasilnya, ia cukup terkejut
pada kartu di posisi ke-3 dalam hexagram hasil ramalannya.
Dalam
hexagram ramalannya, posisi nomor 3 adalah ramalan tentang masa depan, dan
kartu di posisi itu adalah kartu 3 keriting, yang selama ini dia anggap sebagai
lambang Viena, namun tiba-tiba salah satu kartu sisa yang dipegang Ace jatuh
tertutup diatas kartu Viena, dan ketika Ace membuka kartu itu, itu adalah kartu
joker, yang kebetulan bergambar tengkorak berjubah hitam dengan sabit yang bisa
dibilang adalah lambang dari dewa kematian. Belum selesai ia melakukan
pembacaannya, Viena datang dan ia menyembunyikan semuanya dari Viena, karena
Viena juga memiliki kemampuan menggunakan tarot dan melihat sesuatu yang lain
seperti Ace. Ia takut jika yang diramalkannya tadi adalah tanggal kematian
Viena.
“Ah..
sudahlah, mungkin kau memang ditakdirkan untuk meninggalkanku kawan !” ucap Ace
menenangkan dirinya, kemudian ia pergi menuju halaman depan sekolah melewati
gerbang belakang sekolahnya, dan kebetulan melewati area SD yang juga tergabung di kompleks sekolahnya. Pada
jam-jam ini biasanya area SD sudah mulai sepi karena mereka pulang 2jam lebih
awal dari jam pulang anak SMP. Tapi kemudian, dia mendengar suara isak tangis
dari sebuah ruang kelas yang baru saja ia lewati, ketika ia melihat kelas itu,
ia teringat bahwa kelas itu adalah kelasnya dengan Viena saat kelas 3 SD.
Penasaran, Ace mengintip dari balik pintu, siapa yang menangis?
Ace
tersentak. “Vi..e..” ucap Ace kaku dan terkejut melihat sosok yang mirip Viena
dari belakang, sedang menagis terisak-isak..
“Kak
Ace ?”
Ace
terkejut, ia menoleh dan melihat orang yang mengagetkannya. Oh, ternyata Mevi.
“Oh,
Mevi. Ada apa Mev ??” ujar Ace agak kaku setelah melihat sosok Viena tadi dan
dikagetkan dengan kehadiran Mevi.
“Kakak
ngapain disini kak ??” tanya Mevi penasaran. “Engg.. anu.. tadi kakak mau ke
depan sehabis dari pohon di belakang yang biasanya jadi tempat ketemuanku sama
kakakmu, kebetulan kakak lewat kelas ini, ini kelas kakak sama kakakmu waktu
kelas 3 SD.” jawab Ace, berusaha untuk tidak memberi tahu Mevi tentang apa yang
baru saja ia lihat.
“Oh,
ini sekarang kelasnya Vheea kak. O iya kak, kakak udah nyekar ke makam kak
Viena ?”
“Belum,
ini aku baru mau kesana. Bareng yuk ?”
“Boleh,
ayo kak.” Mevi menggandeng tangan Ace, sementara Ace mencoba melirik ke dalam
kelas. Ternyata sudah tidak ada, berarti tadi itu hanya halusinasinya saja.
Di
perjalanan, Ace menulis sesuatu di kertas yang mungkin akan ia jadikan surat
untuk Viena. Sementara Mevi bingung, kenapa Ace melakukan hal itu.
“Nulis
surat buat siapa kak ?” tanya Mevi penasaran. “Surat buat kakakmu Mev”. “Loh?
Memangnya kak Viena bisa baca surat kakak ?”. “Entahlah, tapi kurasa aku perlu
menuliskannya jika aku ingin bicara padanya.”. “Bukannya gak perlu ya kak? Aku
rasa ikatan batin kakak dengan kak Viena cukup erat. Kalian kan sudah hampir
bisa dibilang pinang dibelah dua, kalian mirip dan kalian akrab sekali.” Ace
hanya menoleh dan tersenyum menyindir dirinya sendiri. “Benar juga, ah biarkan,
sudah hampir selesai kok. Hehehe.. ”
No comments:
Post a Comment