Sesampainya
disana, dia segera memasuki kamar Viena dan meminta semuanya untuk tidak
mengganggunya. Di dalam sana, dia membuka kotak kecil itu, di dalamnya ada
sebuah bros berbentuk hati dengan ukiran emas putih, ditengahnya ada sebuah
batu yang cantik berwarna biru laut. Ia mengamati bros itu, kemudian mendesah
“Maafkan aku kawan, tapi
kurasa harus kulakukan.” ucapnya. Ace mencoba mencongkel batu bros itu, dan dia terkejut. Di sisi samping batu itu seperti ada garis yang membelahnya, ia mencoba membukanya dan terbelah. Yang membuatnya kaget, ada sebuah micro SD di belahan batu itu. Karena penasaran, Ace memasukkan micro SD itu ke cardreader dan membukanya di laptop yang selalu dia bawa di tas sekolahnya.
kurasa harus kulakukan.” ucapnya. Ace mencoba mencongkel batu bros itu, dan dia terkejut. Di sisi samping batu itu seperti ada garis yang membelahnya, ia mencoba membukanya dan terbelah. Yang membuatnya kaget, ada sebuah micro SD di belahan batu itu. Karena penasaran, Ace memasukkan micro SD itu ke cardreader dan membukanya di laptop yang selalu dia bawa di tas sekolahnya.
Ketika
Ace memasukkan cardreadernya, layar
laptop Ace langsung gelap dan kemudian muncul angka, huruf dan lambang-lambang
yang tidak beraturan. Kemudian muncul sebuah dialog box yang meminta password untuk memasuki masuk lebih
dalam. Kode apa? Mau diisi apaan? Ace mencoba beberapa kata yang berhubungan
dengan keluarga Viena, dan semuanya gagal. Sampai muncul sebuah dialog box lain
yang menanyakan apa ia membutuhkan clue?
Ace menekan icon “Yes” dan kemudian muncul kalimat yang membuatnya harus
berfikir keras.
Weight of The World..
Snow White Queen..
Father of Perseus..
Ace
bingung, beratnya dunia? Putih salju? Ayah perseus? Berat, putih, poseidon.
Jawaban ada di depan mata, tapi dia lupa. Setelah dipikir-pikir, dia baru ingat.
“Ah, dasar pelupa!” ujarnya menyindir diri sendiri. Sejurus kemudian, dia
mengisi password dan berhasil masuk.
Lama ia membaca, akhirnya dia tahu semuanya! “Alright then.”, “PUZZLE SOLVED!” ujarnya.
-xxxxxxxXXXXXxxxxxxx-
Keesokan
harinya di sekolah, Ace langsung menemui Danny dan menceritakan apa yang dia
temukan kemarin. Kemudian saat Eddie datang, Ace langsung mencegatnya dan
menyapanya dengan sebutan yang tidak biasa.
“Selamat
pagi Tuan Murray!” ujar Ace sambil mengedipkan sebelah matanya. Eddie
tersentak, darimana dia tahu nama kakek buyutku? Batin Eddie. Ada yang tidak
beres, fikir Eddie. Ace melirik dari luar kelas. Hahahaha... masuk perangkap
kau Ed, batinnya. Sekarang yang harus dia siapkan adalah perasaan tenang dan
sok innocent, walau ia tak akan tahu
dengan apa yang terjadi nantinya.
-xxxxxxxXXXXXxxxxxxx-
“Ma,
kurasa ada sesuatu yang tidak beres. Dia sudah tahu nama kakek buyutku. Aku curiga
kalau dia juga tahu akan rahasia dan rencana kita yang juga akan memusnahkan
mereka.”
“Kau
yakin? Yah, apa boleh buat. Kita musnahkan dulu temanmu itu, dengan begitu jika
keluarga Calaposthrotte sudah musnah semua, kita sudah tidak perlu lagi mencari
orang lain yang diberi wasiat itu, dan jalan kita untuk mendapatkan semua harta
kekayaan kakek buyutmu yang mereka ambil sudah dekat. Nanti pulang sekolah,
mama akan suruh orang suruhan mama untuk menangkapnya.”
-xxxxxxxXXXXXxxxxxxx-
“Apa
yang sedang kau ramalkan?” tanya Danny ketika melihat Ace mulai mengocok kartu
reminya. “Cuman ingin tahu apa yang akan terjadi padaku hari ini. Bagaimana
dengan pamanmu? Apa semuanya sudah beres?” jawab Ace, “Tentu saja!”.
Ace
mulai menyusun kartu sesuai hexagramnya, dari 7 posisi itu. Kemudian Ace
membuka semua kartu kecuali posisi nomor 7, dia cukup puas dengan hasilnya,
sementara Danny sedikit tegang dengan hasilnya. Ace cuman tersenyum pada pacarnya
dan ia mulai menjelaskan apa yang ada di pikiran Danny. “Kau tak perlu takut
dengan posisi kartu ini! Tujuh hati di nomor 2 posisi terbalik, Eddie sedang
tidak seperti biasanya karena kurasa dia ketakutan dengan umpanku tadi.” Ungkap
Ace tenang. “Joker di posisi nomor 3, masa depan. Aku tahu aku tidak akan mati
secepat ini, maka jika kutambahkan satu kartu diatasnya..” ace mengambil satu
kartu tertutup dan meletakkannya diatas posisi nomor 3, kemudian ia membukanya,
delapan hati, “Well, sudah kuduga, aku takkan mati tapi seseorang dari keluarga
Eddie akan menjebakku karena umpan yang kulempar pada Eddie tadi.” Jelasnya
singkat. “Apa? Menjebakmu? Bagaimana aku bisa tenang jika mereka menjebakmu?”
potong Danny ketika mendengar penjelasan Ace. “Tenang saja sayang, semua sudah
terkendali.” Balas Ace sambil mengedipkan mata dan kemudian dia mengambil
sesuatu dari tasnya.
“Simpan
ini, dan kau pasti tahu apa yang harus kau lakukan nantinya.” Ujar Ace sambil
mennyerahkan bungkusan itu pada Danny. Tapi namanya juga pacar, kalau
kekasihnya akan melakukan hal yang beresiko, siapa yang tidak akan khawatir?
“Bagaimana kau bisa yakin kalau apa yang akan kau lakukan akan berhasil?” tanya
Danny prihatin, Ace tertawa kecil “Kau tau, posisi nomor 7 adalah conclusion atau penyelesaian, diatasnya
akan kutambahkan satu kartu lagi.” Ucap Ace sambil menambahkan satu kartu
diatas posisi nomor 7, “Jika kutaruh diatasnya, saat kubalik dia akan ada di
bawah, dan hasilnya..”. Danny terkejut dengan kartu itu dan penjelasan Ace,
kemudian keduanya tertawa bersama. “Dasar pacarku peramal sialan! Padahal aku sudah
cukup ketakutan. Hahahaha!”
-xxxxxxxXXXXXxxxxxxx-
Ketika
bel pulang berbunyi, Danny dan Ace segera keluar sekolah. Kemudian Ace menunggu
Danny yang sedang mengambil motornya, tak lama kemudian, Danny sudah muncul.
Baru saja Ace akan berjalan menghampiri Danny, sebuah mobil Nissan Serena merah
mencegatnya. Ace terkejut, kemudian beberapa pria dengan tampang sangar keluar
dari mobil itu dan menangkap Ace. Ace mencoba melawan, tapi ia kalah telak
dengan mereka, ia hanya bisa meraung-raung dan berteriak sekeras-kerasnya
ketika pria-pria itu mulai mengikat kedua tangannya. “Toloooonnggg!! Toloo... ooonnn...ggg...
mmm..pff.....” salah satu pria itu menyekap mulut Ace dan memasukkannya dalam
mobil.
“ACEEE
!!!” teriak Danny ketika melihat Ace dicegat. Dia langsung gelagapan, dengan
cepat ia menyalakan motornya dan mulai mengejar mobil itu. Danny mengendarai
motornya dengan kecepatan penuh. Ia tidak mau mengambil resiko terhadap
pacarnya! Tapi malang, moil itu sudah melesat lebih jauh ketika lampu merah
menyegat Danny dan memaksanya untuk berhenti. “SIAAAALL !!!!!!!!” geram Danny
sambil memukuli stang motornya. Apa boleh buat, dia akhirnya kembali ke sekolah
untuk mencari akal agar ia bisa menyelamatkan Ace. Kemudian muncul ide di
otaknya, Paman Gabriel. Ya, Paman Gabriel mungkin bisa menolongnya. Ia kemudian
menelpon kantor pamannya, “Selamat siang, bisa saya bicara dengan Inspektur
Gabriel? Katakan saja ini dari Danny keponakannya... Iya? Apa katanya? Baiklah
saya akan segera kesana sekarang.”
Sementara
Danny sedang menuju ke kantor pamannya, Ace masih mengerang-erang untuk
melepaskan diri dari pria-pria sangar yang mengikatnya tadi, namun disisinya
kini ada seorang wanita paruh baya yang kini menjambak rambut Ace. “Mana file
itu?” ucapnya garang, “AAArrggh.. file apaan sih? Aku gak tau! Aduuuhh..
sakitt!!! Lepaskaannn!!” jawab Ace kesakitan dengan rambutnya yang dijambak
seperti itu. “Jangan pura-pura bohong! Geledah tasnya!”, perintahnya pada anak
buahnya. “Baik!” seketika itu juga, tas Ace digeledah dan mereka menemukan bros
tempat file itu disembunyikan. “Hash! Sesuai dugaan, cepat belah batu yang ada
di bros itu!” perintah wanita itu lagi. Mampus aku, batin Ace
Sesampainya
Danny di kantor pamannya, dia segera menemui beliau dan menceritakan semuanya.
“Kamu ingat ciri-ciri mobil itu?” tanya inspektur Gabriel, “Iya paman, Nissan
Serena merah keluaran tahun 2010, kalau tidak salah plat nomornya N xxxx GA”
ujar Danny. “Apa kau punya informasi pendukung lainnya?” tanya inspektur
Gabriel, “Kurasa tidak.” Jawab Danny, “Baiklah, semoga kita bisa mencarinya
dengan cepat!” ujar inspektur Gabriel. Tapi kemudian Danny teringat pesan Ace.
Dia segera membuka tasnya dan mengambil bungkusan tadi, dibukanya bungkusan itu
yang ternyata isinya adalah GPS. Dengan tersenyum, dia memanggil pamannya lagi
“Paman! Kurasa kita bisa menemukannya lebih cepat!” ucapnya girang.
Ace
pingsan, bukan karena ketakutan, tapi karena ia dibungkam dengan bau menyengat
karena terus meronta-ronta sedari tadi. Wanita tadi akhirnya berhasil
mendapatkan micro SD yang
disembunyikan di bros itu. Kemudian dia memasukkannya di cardreader dan dia memasangnya ke laptopnya. Tampilan layar
laptopnya menjadi hitam dan muncul angka, huruf dan lambang-lambang aneh,
kemudian keluar dialog box yang meminta password
untuk melihat isinya. Wanita tadi mulai memasukkan kode-kode yang ia
ketahui, tapi tidak berhasil. “Ternyata memang berbeda dengan duplikatnya.”,
kemudian ia mencoba mencari cluenya.
Tapi tetap tidak berhasil, dan akhirnya, sepanjang perjalanan terpaksa ia
mencari sendiri kodenya daripada membangunkan Ace yang mungkin akan
meronta-ronta lagi.
“Kamu
mau nyari apa pake GPS ini Dan? Gak ada tujuannya samasekali.” Kata inspektur
Gabriel, baru saja Danny hampir putus asa, tiba-tiba muncul sebuah target di
GPS tersebut. “Paman! Ini targetnya muncul! Kita harus segera menyusulnya!”
teriaknya girang, “Kamu yakin itu posisi Ace sekarang?” tanya inspektur
Gabriel, “Tentu paman! Ace sendiri yang memberiku GPS ini tadi siang, pasti
akan menunjukkan posisinya sekarang.” Jawab Danny. Kemudian inspektur Gabriel
segera memberi informasi pada anak buahnya. “Kita berangkat sekarang!” ujar
inspektur Gabriel.
No comments:
Post a Comment