Thursday, 18 April 2013

Around Us - Calaposthrotte Tragedy #Phase 5


“Eeenngghhh...” rintih Ace ketika membuka matanya, dia berfikir, dimana ini? Batinnya. Beberapa detik kemudian, dia baru sadar. GLEK! Dimana aku sekarang? fikirnya. Ace kini berada di sebuah ruangan yang cukup kecil seperti gubuk kayu yang tak terawat. Di depannya terdapat sebuah meja kayu usang yang cukup besar dan sebuah lampu yang menggantung dari atap. “Aaarrgghh..” geram Ace karena ternyata ikatannya belum dilepaskan. DAMN! Belum tahu mereka berhadapan dengan siapa. Kemudian dia berteriak sekeras-kerasnya, “WOY! J****K! LEPASIN GUEE!!!” makinya berharap ada yang masuk menanggapi teriakannya.


“Wah, si putri tidur sudah bangun!” ucap sebuah suara yang Ace anggap sudah akrab. Jangan-jangan itu Eddie? Batinnya. Kemudian, muncul dua sosok dari pintu di seberang. DAMN! GOD THATS REALLY HIM! Itu benar-benar Eddie, dan wanita yang menjambaknya tadi, apa mungkin itu mamanya? Terus, mana papanya dan Erick? Belum selesai ia dengan pertanyaan di otaknya, wanita itu mencengkeram dagu Ace, “Beritahu aku kode file itu!”, “Hm, gak pernah sekolah ya? Gak diajari tata krama? Aku gak akan bicara kalo belum diberlakukan dengan baik!” bantah Ace. Dengan emosi wanita itu mendorong Ace dan menyuruh anak buahnya untuk melepaskan ikatan Ace. Kemudian Ace duduk dengan santainya. “Sekarang katakan kodenya!”, “Well, yeah.. Tears of Winter.

Eddie langsung memasukkan kode itu, dan mereka berhasil masuk ke program tersebut. Tapi kemudian, yang keluar adalah sebuah permainan dengan dua anak laki-laki sebagai pemeran utamanya. Wanita itu langsung marah dan membentak Ace, “APA MAKSUDNYA INI?” tanyanya kasar, “Woah, sabar nyonya, ntar keriput kalo marah mulu. Lagian game juga belom selesai udah nyolot.” Ejek Ace santai yang membuat wanita itu semakin naik pitam. Namun kemudian, Eddie menepuk lengan wanita itu dan berkata, “Sudahlah ma, biar aku selesaikan permainan ini dulu”.

Tapi Eddie tidak bisa menyelesaikan permainan itu, yang keluar hanyalah kata-kata “YOU LOSE!”. Wanita itu sangat marah dan kemudian menodongkan pistolnya ke kepala Ace, “KATAKAN! DIMANA FILE YANG ASLI? KALAU KAU TIDAK MAU BICARA, AKAN KUBUNUH KAU!” bentaknya, “Bunuh saja, toh kalaupun aku mati kalian tidak akan mendapatkan informasi dan kalian tidak akan bisa menyandera Mevi ataupun Vheea karena keduanya sudah kutitipkan pada inspektur Gabriel” jawab Ace tenang. Eddie menahan mamanya, dan ia berkata “Katakan yang kau ketahui!” perintahnya, “Hah? Nyeritain ulang? Ogah ah, tadi kan udahh kamu maenin gamenya, harusnya kamu  tahu dong.” Ledek Ace, melihat tampang Eddie yang sepertinya tidak tahu apapun, akhirnya Ace angkat bicara, “Kurasa kau kalah dan isi file itu tidak bisa kau baca. Yah, okelah kuceritakan lagi.”


“Alexander Murray dan adiknya, Gregor Murray adalah saudara kandung yang sangat akur, tak ada benci diantara mereka. Gregor kemudian menikah dengan Jeannette Terrytera dan membangun perusahaannya sendiri, sementara Alex menikah dengan Silvanya Louis dan memimpin perusahaan yang diwariskan ayah mereka padanya. Tapi suatu hari, perusahaan Alex bangkrut, dan Gregor membantunya. Alex ingin membalas budi padanya, tapi suatu hari dalam perjalanan dinas, Gregor dibantai oleh sekelompok pria sangar. Pada saat yang sama Alex dan beberapa anak buahnya sedang lewat, melihat kejadian itu ia membantu Gregor. Namun malang, Alex dan beberapa anak buahnya meninggal, dan karena kejadian itu Gregor merasa beranggung jawab atas keluarga kakaknya, dan perusahaan Alex. Dalam kepemimpinannya Gregor menemukan suatu keganjilan di aset harta Alex. Ternyata banyak hasil korupsi di aset Alex, baik itu dari perusahaannya ataupun dari pajak pemerintah, oleh karena itu dia tidak berani membagikan harta warisan kepada keluarga Alex. Karena itu Gregor menjadikan keluarga Alex sebagai anggota keluarganya juga dan menghidupi mereka semua. Tapi Silvanya yang tidak tahu malah menuduh kalau Gregor yang membunuh Alex dan merenggut semua harta Alex. Sementara Gregor tidak ingin keluarga Alex tahu dan menyembunyikan semua fakta itu di microSD yang disembunyikan di bros bernama Tears of Winter. Sementara duplikatnya yang palsu berhasil dibuka oleh ayah Viena. Namun seluruh keturunan Alex dan Silvanya menjadi dendam pada keluarga Gregor karena tidak mengetahui fakta yang pahit itu, walau sebenarnya fakta itu disembunyikan untuk menyelamatkan keluarga Alex, dan bros itu diwariskan turun temurun oleh keturunan Gregor agar tidak ada yang mengetahui rahasia keluarga Alex.” Jelas Ace panjang lebar.

“Di wasiat Gregor tertulis bahwa bros itu harus diwariskan ke keturunan pertama, dan jika ia belum memiliki keturunan akan diberikan pada orang terdekatnya. Itu kenapa kalian dengan mudahnya membunuh seluruh keturunan Gregor untuk mendapatkan informasi dan kemudian menculikku dan ingin membunuhku sehingga jika aku tidak mau bicara kalian tinggal membunuhku karena Viena belum punya keturunan dan akulah yang akan diberi wasiat selanjutnya.” Ungkap Ace mengagetkan wanita itu dan Eddie. Kenapa ia bisa tahu? Batin mereka. “Dan satu lagi, jika kalian memang kalian berhasil mendapatkan harta itu, kalian sudah pasti akan ditangkap. Bukan hanya karena pembunuhan berantai yang kalian lakukan tapi juga karena harta korupsi itu. Karena Gregor sudah menyeting agar brankas harta itu hanya bisa dibuka dengan microSD tadi.” Jelas Ace.

“Hahaha.. menangkap kami? Jangan harap! Bagaimana mereka bisa tahu? Yang penting sekarang microSD ini sudah ada di tanganku dan aku bisa mengambil hartaku.” Ujar wanita itu dengan sombongnya. “Well, yeah.. as long as the satellite can’t locate your position. But I think thats very impossible ‘cause that microSD had it own special signal that could be located with the satellite, and the position can be seen in a GPS that have been syncronized with that microSD.” Potong Ace mengejutkan mereka. “Dan sekarang kalian kami tangkap!” ucap inspektur Gabriel yang ternyata sudah sedari tadi menyusup disana. Anak buahnya langsung mendobrak pintu gubuk itu dan menangkap komplotan wanita itu. Tentu saja Eddie juga tertangkap, Ace cukup sedih tapi itu tidak bisa dibandingkan dengan banyaknya nyawa yang telah mereka renggut.

“Ternyata benar posisi nomor 7 tadi, joker terbalik dan as waru diatasnya. Untunglah kau selamat princess” ujar Danny seraya merangku Ace. “Kan sudah kubilang, tenang saja.” Sahut Ace. “Hey, apa kau bisa mengantarkanku ke rumah Eddie?” tanya Ace, “Sure, why?” tanya Danny, “Just wanna check something.” Balas Ace. Ketika mereka akan keluar, inspektur Gabriel mencegat keduanya. “Aku mendengar tentang korupsi tadi, dan itu kasus yang sudah sangat lama. Apa aku bisa mengambil barang bukti untuk melepaskan beban kelauarga Viena?” tanyanya. “Tentu inspektur, tapi jika kau ingin menanyakannya pada keluarga Viena, aku sarankan untuk mengajakku agar aku bisa menjelaskan pada mereka.” Papar Ace, “Baiklah, hubungi aku jika kau akan menemui keluarga Viena.”

Setengah jam kemudian, Danny dan Ace sampai di rumah Eddie. Saat mengetuk pintu, yang membuka pintu dan menyambut mereka adalah papa Eddie. Setelah dipersilahkan masuk, mereka menceritakan apa yang barusan terjadi. “Yah, sudah lama kukatakan pada mereka untuk tidak lagi mempermasalahkan harta itu. Apa boleh buat jika mereka tetap mengotot? Aku dan Erick benar-benar bersih dan tidak memiliki sangkur paut apapun terhadap masalah ini.” Jelas ayah Erick, “Apa bapak tidak ada niat untuk membebaskan mereka?” tanya Ace penuh selidik. “Tidak, biarkan mereka menanggung kesalahan mereka dan bisa introspeksi diri.” Ujarnya, “Baiklah, terima kasih pak. Maaf jika mengganggu, titip salam untuk Erick, kami permisi dulu.” Ucap Danny sambil berdiri bersiap pergi. “Iya, sama-sama nak, hati-hati dijalan.”

Danny mengantarkan Ace samapai pintu rumahnya, saat ia akan berbalik untuk pulang, Ace menghentikan langkahnya, “Besok temani aku menjelaskan ke Mevi dan Vheea ya?” pinta Ace. “Tentu saja princess, takkan kubiarkan kau diculik lagi, aku akan terus disismu.” Ujar Danny lembut dan kemudian mencium kening Ace, kemudian berbalik meninggalkan Ace. “Sungguh hari yang panjang!” desah Ace sambil memasuki rumahnya.

No comments:

Post a Comment