Thursday, 18 April 2013

Around Us - Calaposthrotte Tragedy #Phase 6 End


Pagi itu Danny sudah siap mengantarkan Ace ke rumah nenek Viena, hari minggu ini Ace bermaksud untuk menyelesaikan segala masalah keluarga Viena. Pukul 07.00 mereka telah sampai di rumah nenek Viena. Inspektur Gabriel juga ada disana, kemudian Ace menjelaskan semuanya pada nenek Viena dan adik-adik Viena. “Kalau semua harta yang tersisa diambil, lantas bagaimana hidup kami?” tanya Mevi. “Tenang saja. Kau sendiri kan

Around Us - Calaposthrotte Tragedy #Phase 5


“Eeenngghhh...” rintih Ace ketika membuka matanya, dia berfikir, dimana ini? Batinnya. Beberapa detik kemudian, dia baru sadar. GLEK! Dimana aku sekarang? fikirnya. Ace kini berada di sebuah ruangan yang cukup kecil seperti gubuk kayu yang tak terawat. Di depannya terdapat sebuah meja kayu usang yang cukup besar dan sebuah lampu yang menggantung dari atap. “Aaarrgghh..” geram Ace karena ternyata ikatannya belum dilepaskan. DAMN! Belum tahu mereka berhadapan dengan siapa. Kemudian dia berteriak sekeras-kerasnya, “WOY! J****K! LEPASIN GUEE!!!” makinya berharap ada yang masuk menanggapi teriakannya.


Around Us - Calaposthrotte Tragedy #Phase 4


Sesampainya disana, dia segera memasuki kamar Viena dan meminta semuanya untuk tidak mengganggunya. Di dalam sana, dia membuka kotak kecil itu, di dalamnya ada sebuah bros berbentuk hati dengan ukiran emas putih, ditengahnya ada sebuah batu yang cantik berwarna biru laut. Ia mengamati bros itu, kemudian mendesah “Maafkan aku kawan, tapi

Around Us - Calaposthrotte Tragedy #Phase 3


Karena kejadian kemarin, hari ini Ace berniat untuk pergi lagi ke rumah nenek Viena lagi untuk mencari informasi, setelah bel tanda pulang berbunyi ia diantar Danny ke rumah nenek Viena, beruntung hari itu ia tidak memiliki jadwal les sehingga Ace berniat untuk menginap di rumah nenek Viena malam ini. Sesampainya disana, ia langsung memasuki kamar Viena untuk menyelidiki, mungkin ada yang petunjuk yang ia lewatkan,

Around Us - Calaposthrotte Tragedy #Phase2


“Apapun itu, beri tahukan padaku jika memang ada yang kau risaukan” ujar Ace saat akan meninggalkan makam Viena. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Setelah nyekar, dia mengantarkan Mevi pulang ke rumah neneknya. Ya, orang tua mereka sudah tiada, dan kini mereka diasuh oleh nenek mereka. Tak lama kemudian, Ace pamit dan pulang ke rumahnya.

-xxxxxxxXXXXXxxxxxxx-


Around Us - Calaposthrotte Tragedy #Phase1


 Terik matahari di siang itu tak berbeda dari biasanya, cukup panas hingga mungkin jika kau iseng, kau bisa memanggang barbecue  atau jenis-jenis sausage lainnya, namun ia tetap tak bergeming untuk pindah dari tempat itu, hanya saja kali ini dia berdiri sendirian di bawah pohon yang mengukir semua kenangan indah bersamanya. Eviena Calaposthrotte kini telah pergi ke sisi-Nya, menyusul kepergian kedua orang tuanya dan meninggalkan kedua adiknya, Meviera Calaposthrotte dan Zavheea Calaposthrotte. Dan tentunya, Viena juga meninggalkannya Nazel D’Mort  yang kini meratapi kepergian sahabat yang telah ia anggap sebagai saudaranya, sahabat sejatinya.

Namun  Ace, nama panggilan Nazel, merasakan keganjilan ketika mendengar berita kematian Viena, bahkan sampai saat ini perasaanya masih tidak enak dan ia belum menitikkan setetespun air mata karena kepergian sahabatnya itu. Sebenarnya, ia merasa sangat bersalah karena tiga hari yang lalu, dibawah pohon itu, ketika ia menunggu kedatangan Viena sepulang sekolah, ia membuka kartu remi-nya yang biasa ia gunakan sebagai tarot untuk meramalkan semua yang ingin dia ketahui. Ia penasaran akan ramalan apa yang akan ia dapatkan hari ini, tapi ketika ia mendapatkan hasilnya, ia cukup terkejut pada kartu di posisi ke-3 dalam hexagram hasil ramalannya.

Dalam hexagram ramalannya, posisi nomor 3 adalah ramalan tentang masa depan, dan kartu di posisi itu adalah kartu 3 keriting, yang selama ini dia anggap sebagai lambang Viena, namun tiba-tiba salah satu kartu sisa yang dipegang Ace jatuh tertutup diatas kartu Viena, dan ketika Ace membuka kartu itu, itu adalah kartu joker, yang kebetulan bergambar tengkorak berjubah hitam dengan sabit yang bisa dibilang adalah lambang dari dewa kematian. Belum selesai ia melakukan pembacaannya, Viena datang dan ia menyembunyikan semuanya dari Viena, karena Viena juga memiliki kemampuan menggunakan tarot dan melihat sesuatu yang lain seperti Ace. Ia takut jika yang diramalkannya tadi adalah tanggal kematian Viena.

“Ah.. sudahlah, mungkin kau memang ditakdirkan untuk meninggalkanku kawan !” ucap Ace menenangkan dirinya, kemudian ia pergi menuju halaman depan sekolah melewati gerbang belakang sekolahnya, dan kebetulan melewati area SD yang  juga tergabung di kompleks sekolahnya. Pada jam-jam ini biasanya area SD sudah mulai sepi karena mereka pulang 2jam lebih awal dari jam pulang anak SMP. Tapi kemudian, dia mendengar suara isak tangis dari sebuah ruang kelas yang baru saja ia lewati, ketika ia melihat kelas itu, ia teringat bahwa kelas itu adalah kelasnya dengan Viena saat kelas 3 SD. Penasaran, Ace mengintip dari balik pintu, siapa yang menangis?

Ace tersentak. “Vi..e..” ucap Ace kaku dan terkejut melihat sosok yang mirip Viena dari belakang, sedang menagis terisak-isak..

“Kak Ace ?”

Ace terkejut, ia menoleh dan melihat orang yang mengagetkannya. Oh, ternyata Mevi.

“Oh, Mevi. Ada apa Mev ??” ujar Ace agak kaku setelah melihat sosok Viena tadi dan dikagetkan dengan kehadiran Mevi.

“Kakak ngapain disini kak ??” tanya Mevi penasaran. “Engg.. anu.. tadi kakak mau ke depan sehabis dari pohon di belakang yang biasanya jadi tempat ketemuanku sama kakakmu, kebetulan kakak lewat kelas ini, ini kelas kakak sama kakakmu waktu kelas 3 SD.” jawab Ace, berusaha untuk tidak memberi tahu Mevi tentang apa yang baru saja ia lihat.

“Oh, ini sekarang kelasnya Vheea kak. O iya kak, kakak udah nyekar ke makam kak Viena ?”

“Belum, ini aku baru mau kesana. Bareng yuk ?”

“Boleh, ayo kak.” Mevi menggandeng tangan Ace, sementara Ace mencoba melirik ke dalam kelas. Ternyata sudah tidak ada, berarti tadi itu hanya halusinasinya saja.

Di perjalanan, Ace menulis sesuatu di kertas yang mungkin akan ia jadikan surat untuk Viena. Sementara Mevi bingung, kenapa Ace melakukan hal itu.

“Nulis surat buat siapa kak ?” tanya Mevi penasaran. “Surat buat kakakmu Mev”. “Loh? Memangnya kak Viena bisa baca surat kakak ?”. “Entahlah, tapi kurasa aku perlu menuliskannya jika aku ingin bicara padanya.”. “Bukannya gak perlu ya kak? Aku rasa ikatan batin kakak dengan kak Viena cukup erat. Kalian kan sudah hampir bisa dibilang pinang dibelah dua, kalian mirip dan kalian akrab sekali.” Ace hanya menoleh dan tersenyum menyindir dirinya sendiri. “Benar juga, ah biarkan, sudah hampir selesai kok. Hehehe.. ”