Pagi
itu Danny sudah siap mengantarkan Ace ke rumah nenek Viena, hari minggu ini Ace
bermaksud untuk menyelesaikan segala masalah keluarga Viena. Pukul 07.00 mereka
telah sampai di rumah nenek Viena. Inspektur Gabriel juga ada disana, kemudian
Ace menjelaskan semuanya pada nenek Viena dan adik-adik Viena. “Kalau semua
harta yang tersisa diambil, lantas bagaimana hidup kami?” tanya Mevi. “Tenang
saja. Kau sendiri kan
Thursday, 18 April 2013
Around Us - Calaposthrotte Tragedy #Phase 5
“Eeenngghhh...”
rintih Ace ketika membuka matanya, dia berfikir, dimana ini? Batinnya. Beberapa
detik kemudian, dia baru sadar. GLEK! Dimana aku sekarang? fikirnya. Ace kini
berada di sebuah ruangan yang cukup kecil seperti gubuk kayu yang tak terawat.
Di depannya terdapat sebuah meja kayu usang yang cukup besar dan sebuah lampu
yang menggantung dari atap. “Aaarrgghh..” geram Ace karena ternyata ikatannya
belum dilepaskan. DAMN! Belum tahu mereka berhadapan dengan siapa. Kemudian dia
berteriak sekeras-kerasnya, “WOY! J****K! LEPASIN GUEE!!!” makinya berharap ada
yang masuk menanggapi teriakannya.
Around Us - Calaposthrotte Tragedy #Phase 4
Sesampainya
disana, dia segera memasuki kamar Viena dan meminta semuanya untuk tidak
mengganggunya. Di dalam sana, dia membuka kotak kecil itu, di dalamnya ada
sebuah bros berbentuk hati dengan ukiran emas putih, ditengahnya ada sebuah
batu yang cantik berwarna biru laut. Ia mengamati bros itu, kemudian mendesah
“Maafkan aku kawan, tapi
Around Us - Calaposthrotte Tragedy #Phase 3
Karena
kejadian kemarin, hari ini Ace berniat untuk pergi lagi ke rumah nenek Viena
lagi untuk mencari informasi, setelah bel tanda pulang berbunyi ia diantar
Danny ke rumah nenek Viena, beruntung hari itu ia tidak memiliki jadwal les
sehingga Ace berniat untuk menginap di rumah nenek Viena malam ini. Sesampainya
disana, ia langsung memasuki kamar Viena untuk menyelidiki, mungkin ada yang
petunjuk yang ia lewatkan,
Around Us - Calaposthrotte Tragedy #Phase2
“Apapun
itu, beri tahukan padaku jika memang ada yang kau risaukan” ujar Ace saat akan
meninggalkan makam Viena. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Setelah
nyekar, dia mengantarkan Mevi pulang ke rumah neneknya. Ya, orang tua mereka
sudah tiada, dan kini mereka diasuh oleh nenek mereka. Tak lama kemudian, Ace
pamit dan pulang ke rumahnya.
-xxxxxxxXXXXXxxxxxxx-
Around Us - Calaposthrotte Tragedy #Phase1
Namun Ace, nama panggilan Nazel, merasakan
keganjilan ketika mendengar berita kematian Viena, bahkan sampai saat ini
perasaanya masih tidak enak dan ia belum menitikkan setetespun air mata karena
kepergian sahabatnya itu. Sebenarnya, ia merasa sangat bersalah karena tiga
hari yang lalu, dibawah pohon itu, ketika ia menunggu kedatangan Viena sepulang
sekolah, ia membuka kartu remi-nya yang biasa ia gunakan sebagai tarot untuk
meramalkan semua yang ingin dia ketahui. Ia penasaran akan ramalan apa yang akan
ia dapatkan hari ini, tapi ketika ia mendapatkan hasilnya, ia cukup terkejut
pada kartu di posisi ke-3 dalam hexagram hasil ramalannya.
Dalam
hexagram ramalannya, posisi nomor 3 adalah ramalan tentang masa depan, dan
kartu di posisi itu adalah kartu 3 keriting, yang selama ini dia anggap sebagai
lambang Viena, namun tiba-tiba salah satu kartu sisa yang dipegang Ace jatuh
tertutup diatas kartu Viena, dan ketika Ace membuka kartu itu, itu adalah kartu
joker, yang kebetulan bergambar tengkorak berjubah hitam dengan sabit yang bisa
dibilang adalah lambang dari dewa kematian. Belum selesai ia melakukan
pembacaannya, Viena datang dan ia menyembunyikan semuanya dari Viena, karena
Viena juga memiliki kemampuan menggunakan tarot dan melihat sesuatu yang lain
seperti Ace. Ia takut jika yang diramalkannya tadi adalah tanggal kematian
Viena.
“Ah..
sudahlah, mungkin kau memang ditakdirkan untuk meninggalkanku kawan !” ucap Ace
menenangkan dirinya, kemudian ia pergi menuju halaman depan sekolah melewati
gerbang belakang sekolahnya, dan kebetulan melewati area SD yang juga tergabung di kompleks sekolahnya. Pada
jam-jam ini biasanya area SD sudah mulai sepi karena mereka pulang 2jam lebih
awal dari jam pulang anak SMP. Tapi kemudian, dia mendengar suara isak tangis
dari sebuah ruang kelas yang baru saja ia lewati, ketika ia melihat kelas itu,
ia teringat bahwa kelas itu adalah kelasnya dengan Viena saat kelas 3 SD.
Penasaran, Ace mengintip dari balik pintu, siapa yang menangis?
Ace
tersentak. “Vi..e..” ucap Ace kaku dan terkejut melihat sosok yang mirip Viena
dari belakang, sedang menagis terisak-isak..
“Kak
Ace ?”
Ace
terkejut, ia menoleh dan melihat orang yang mengagetkannya. Oh, ternyata Mevi.
“Oh,
Mevi. Ada apa Mev ??” ujar Ace agak kaku setelah melihat sosok Viena tadi dan
dikagetkan dengan kehadiran Mevi.
“Kakak
ngapain disini kak ??” tanya Mevi penasaran. “Engg.. anu.. tadi kakak mau ke
depan sehabis dari pohon di belakang yang biasanya jadi tempat ketemuanku sama
kakakmu, kebetulan kakak lewat kelas ini, ini kelas kakak sama kakakmu waktu
kelas 3 SD.” jawab Ace, berusaha untuk tidak memberi tahu Mevi tentang apa yang
baru saja ia lihat.
“Oh,
ini sekarang kelasnya Vheea kak. O iya kak, kakak udah nyekar ke makam kak
Viena ?”
“Belum,
ini aku baru mau kesana. Bareng yuk ?”
“Boleh,
ayo kak.” Mevi menggandeng tangan Ace, sementara Ace mencoba melirik ke dalam
kelas. Ternyata sudah tidak ada, berarti tadi itu hanya halusinasinya saja.
Di
perjalanan, Ace menulis sesuatu di kertas yang mungkin akan ia jadikan surat
untuk Viena. Sementara Mevi bingung, kenapa Ace melakukan hal itu.
“Nulis
surat buat siapa kak ?” tanya Mevi penasaran. “Surat buat kakakmu Mev”. “Loh?
Memangnya kak Viena bisa baca surat kakak ?”. “Entahlah, tapi kurasa aku perlu
menuliskannya jika aku ingin bicara padanya.”. “Bukannya gak perlu ya kak? Aku
rasa ikatan batin kakak dengan kak Viena cukup erat. Kalian kan sudah hampir
bisa dibilang pinang dibelah dua, kalian mirip dan kalian akrab sekali.” Ace
hanya menoleh dan tersenyum menyindir dirinya sendiri. “Benar juga, ah biarkan,
sudah hampir selesai kok. Hehehe.. ”
Subscribe to:
Posts (Atom)