Sunday, 29 September 2013

The Child of Chaos #1


RIIIINNNGGGG!!!!!

Alarm Bella berdering keras sekali, namun gadis itu sama sekali tidak bergeming dari tidurnya. Ia masih saja terpejam, dan bahkan tidak bergerak sama sekali. Kalaupun memang ada gerakan, itu hanyalan gerakan badannya yang naik-turun dalam rangka bernafas untuk menunjukkan bahwa ia masih hidup. Malahan, alarm yang sudah berdering sejak 10 menit lalu itu malah membuat Leony, kakak Bella, masuk ke kamar Bella dengan tergesa-gesa karena dia sudah muak dengan bunyi alarm di pagi hari yang tidak membangunkan siapapun di ruangan itu.



Kletak!, terdengar suara yang keras ketika Leony mematikan alarm itu dengan kasar. Dengan terheran-heran, Leony melihat ke arah adiknya yang satu itu dan berbicara sendiri dalam hatinya, Ini adikku atau kebo sih?, dan kemudian ia mulai membangunkan Bella dengan meneriaki gadis itu tepat di telinganya sambil berusaha membangunkannya dengan mengguncang-guncangkan tubuh Bella yang sama sekali tidak bergerak itu, “SUDAH PAGI SLEEPING BEAUTY! CEPAT BANGUN DAN KEMASI SEMUA BARANGMU SUPAYA AKU BISA TINGGAL DI RUMAH INI DENGAN TENANG!!!”.

Sementara itu, yang dibangunkan masih bisa dengan malas-malasan bangun dari tidurnya dan mengatakan “Apa?”, kemudian menguap sambil masih mengusap-usap matanya. Karena Leony segera pergi dari kamar Bella sambil mengomel-omel sendiri tentang kemalasan tingkat dewa dari adiknya yang satu itu seusai melihat si adik yang mulai sadarkan diri dari tidur lelapnya dan mulai mengusap-usap matanya. Namun, sepersekian detik kemudian ketika suara Leony sudah lenyap dari kamarnya, Bella kehilangan kesadaran lagi dan badannya mulai ambruk ke kasur untuk melanjutkan tidurnya lagi. Zzz..



Sekarang pukul 07.30 dan Bella baru memakai seragamnya. Padahal satu setengah jam lagi, dia sudah harus hadir di upacara penyambutan murid baru di sekolah barunya, Broxlortheus Academy, dan dia belum mengemasi barang-barangnya sama sekali! Padahal dia akan tinggal disana selama satu semester dan hanya kembali ke rumahnya di Northern Aveile Mansion pada liburan akhir semester. Tapi, namanaya juga Bella, sekarang dia malah dengan santai menikmati sarapannya, ketika Nanny Della lewat ia menyuruhnya untuk mengepaki barang-barang bawaannya. Leony yg melihat kejadian itu hanya bias geleng-geleng sambil menghembuskan nafas yang lumayan panjangmelihat kelakuan adik satu-satunya itu. “Bell, papa sama mama masukin kamu di Broxlortheus Academy itu biar kamu bisa mandiri. Eh sekarang belum masuk aja kamu masih malas-malasan gini, nanti disana gimana?”

“Entahlah~”, jawab Bella santai sambil mencomot sepotong Karage dari piringnya.

“Kok entahlah? Jawab yang bener deh! Aku nggak mau harus jauh-jauh ke sekolahmu cuma dalam rangka dipanggil guru karena kamu malas-malasan terus disana”, balas Leony sedikit jengkel dengan kelakuan adiknya itu.

“Tenang aja kakakku sayaanngg~..”, jawab Bella lagi dan kemudian mencomot sepotong Karage lagi dan melahapnya bulat-bulat, setelah selesai ia mengunyah dan menelannya, dia berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah kursi kakaknya, kemudian ia memeluk kakak perempuannya itu dari belakang sambil berucap kembali, “Ngga bakalan sampe melebihi 3 hari aku bakalan udah dapet temen yang sekaligus berfungsi sebagai anak buah untuk disuruh-suruh. Multifungsi kan?”.

Untuk sesaat, Leony hanya bisa diam sambil melotot karena kaget mendengar jawaban dari adiknya yang tidak dia sangka-sangka itu. Dengan cepat diaberbalik dan menjitak kepala Bella, “Dasar tuan putri tukang kebo!”.



Arloji digital Bella kini menunjukkan waktu 15 menit menuju jam 8 pagi. Untungnya, kini Bella sudah sampai di sekolahnya tanpa kekurangan satu barang pun perlengkapan yang dia butuhkan nanti selama setengah semester di sekolah ini. Dan sebenarnya semua itu tak akan terjadi jika tak ada Nanny Della dirumah. Bagaimana bisa anak bungsu keluarga Delancy menyiapkan perlengkapannya sendiri?

Dari tempat Bella turun dari mobilnya, terdapat sebuah gerbang raksasa, kira-kira 5 meter tingginya dengan dua buah tembok yang tak terlalu lebar, bentuknya hanya seperti persegi panjang yang berfungsi sebagai tempat bertenggernya dua buah gerbang raksasa itu dan diatasnya terdapat beberapa besi yang membentuk ornament simple dan lambang sekolah tersebut yang terletak di tengahnya. Pada tembok kanan terdapat tanda yang bertulisakan nama sekolah tersebut, “Broxlortheus Academy”.

Setelah dua tembok yang tak terlalu lebar itu, pagar pembatas sekolah tersebut terbuat dari besi dengan ketinggian yang sekiranya cukup untuk menahan semua murid di dalamnya untuk kabur dari area sekolah dengan melompati pagar ini. Di bagian bawah pagar itu terdapat tembok kecil yang tak terlalu tinggi sebagai pot panjang yang mungkin mengelilingi seluruh pagar sekolah itu. Pada pot itu terdapat tanaman pucuk merah yang tak terlalu tinggi, namun terlihat tertata rapi. Namun sayangnya, pagar pembatas dan gerbang sekolah ini malah terkesan menyeramkan karena sepertinya semua barang yang telah tersebutkan sebelumnya terlihat sudah tua dan dililit oleh tanaman rambat.

Leony baru saja selesai menurunkan koper Bella dan bawaan lainnya dari mobil ketika ia melihat adiknya itu sedikit tercengang melihat bagian depan dari sekolah tersebut. Ia hanya tertawa kecil dan menepuk pundak adiknya sambil menunjuk ke arah dalam dari gerbang tersebut. “Nggak usah takut! Lihat deh, Cuma bagian depannya aja yang terasa tua, tapi bagian dalamnya masih normal untuk manusia biasa kan?”, ujarnya ketika menunjuk ke arah dalam dari gerbang tersebut.

Memang, di dalam bangunan pelindung sekolah itu terdapat jalan setapak yang menghubungkan gerbang dengan hall depan sekolah itu yang cukup megah. Jarah jalan setapaknya pun tak terlalu jauh, tapi di tengah-tengahnya terdapat sebuah putaran yang berfungsi sekaligus sebagai belokan menuju sisi kiri dan kanan menuju beberapa gedung kecil lain yang terletak di ujung dari sisi kiri dan kanan jalan setapak itu. Dan ditengah putaran tersebut terdapat sebuah air mancur yang tak terlalu besar dan dikelilingi tanaman-tanaman yang cantik, menghilangkan kesan “Horor” dari gerbang di depannya.

“Iyasih. Tenang aja, yang kayak gini nggak serem kok!” ujar Bella setelah memandang jauh ke depan selama beberapa saat. Leony cuma tersenyum tipis dan menutup bagasi mobil. Setelah semua bawaan Bella diturunkan, ia berjalan menuju gerbang masuk sambil menggeret satu kopernya, namun setelah beberapa langkah melewati gerbang dia berhenti sejenak dan berbalik menghadap ke arah kakaknya, “Kak, ini.. Bawaanku nggak dibantuin bawa masuk nih?”, tanyanya dengan keras, sedikit berteriak.

“Ya enggak lah! Bawa sendiri yah~”, jawab kakaknya lantang. Kemudian dengan acuh dan tanpa memperdulikan Bella lagi Leony langsung masuk ke mobil dan berlalu begitu saja dengan kencangnya.

Dan kini Bella bingung bagaimana caranya untuk membawa dua buah koper jumbo dan sebuah tas tenteng seukuran peti harta karun. Goddamn!



Kamar nomor 213. Kamar nomor 213. Kamar nomor 213.

Itulah dua kata tiga angka yang kini berkecamuk di otak Bella. Kenapa harus kamar nomor 213 sih? Sudah di lantai 2, angka sial pula!, gerutunya dalam hati saat dia baru selesai menaiki anak tangga terakhir ke lantai 2 asrama putri di sekolah itu. Untungnya aja aku nyari kamar itu nggak sambil ngebawa dua koper jumbo sama tas raksasa itu,batinnya lagi sambil berjalan perlahan meilhat kekiri-kanan untuk mencari kamarnya.

Dan sekarang dia sampai di ujung koridor lantai dua itu. Kamar yang terletak di ujurng ruangan bertuliskan angka 210. Tiga kamar lagi, fikirnya. Tapi ini belok ke mana ya? Kiri atau kanan?, terkanya sambil menimbang nimbang karena di ujung koridor tersubut terdapat dua belokan, yang satu ke kiri dan satunya lagi ke kanan. Tepat sebelum dia berjalan ke arah kanan, seseorang menyentuh pundaknya dan memberhentikan langkahnya. “Lho? Kau yang tadi kan?”

Bella menoleh dan kini ia melihat seorang gadis dengan rambut sedikit ikal namun bergelombang besar kemerahan sepunggung yang ia rasa pernah ia temui. Kapan ya? Oh, iya sih tadi pagi! Tepat saat dengan bodohnya ia mencoba semua barang bawaannya sendiri menuju gedung sekolah.

Disana Bella berjuang seorang diri dengan segala daya upayanya untuk membawa semua barang bawaannya menuju bangunan utama sekolah barunya itu. Tapi beberapa langkah setelahnya, ia berhenti bukan karena menyerah ataupun sudah kelelahan membawa barang sebanyak itu, tapi karena di seberangnya ada seorang gadis dengan rambut sedikit ikal namun bergelombang besar kemerahan sepunggung berdiri disana sambil menyunggingkan seulas senyum ramah yang menyiratkan kebanggaan atas paras dirinya yang cantik mempesona itu. Bibirnya merah, semerah mawar, namun Bella rasa itu warna alami dari bibirnya, bukan ulasan lipstick ataupun lipgloss. Kulitnya tidak terlalu putih, tetapi tetap terlihat cerah dan terawat. Matanya yang bulat berwarna hijau kebiru-biruan, membuatnya terlihat semakin cantik dengan pipi mulus yang sedikit merona. Namun dari segala penampilan luarnya, Bella malah memperhatikan bayang-bayang di belakang gadis itu.

Disana, di belakang gadis itu, terlihat seperti ada bayang-bayang keunguan dengan yang berbentuk seperti selendang ombak tipis dan transparan. Gadis itu tertawa sedikit ketika melihat Bella memfokuskan pandangan pada baying-bayang dibelakangnya.

“Perkenalkan, ini Slavia. Artificial Spirit yang membantuku melakukan pekerjaanku atau bisa dibilang sebagai asistenku. Kau tak perlu memandanginya seperti itu Miss Delancy, dan juga aku kasihan pada dirimu karena harus membawa semua barang bawaanmu dengan tanganmu sendiri. Kenapa tidak menyuruh asistenmu sendiri, huh?”, tanya gadis itu. Eh? Darimana dia tahu nama keluargaku? Dan, asisten? Tunggu, itu artinya aku boleh menampakkan wujud asliku disini?, tanya Bella pada dirinya sendiri. Melihat Bella bertanya-tanya pada dirinya sendiri, seakan juga ditanyai oleh Bella, gadis itu menjawab semua pertanyaan dalam benak Bella. “Namaku Lucinda Rovalez murid kelas 2 disini, kau bisa memanggilku Lucy, aku salah satu dari The Guardian disini. Yah, anggap saja The Guardian itu seperti organisasi yang berisikan pengurus sekolah dari muri-murid disini. Aku sudah tau tentang kepindahanmu kesini Belliana, ah, apa taka da versi singkatnya? Dan disini, ini bukan sekolah biasa kok, disini semua muridnya sama sepertimu, jadi tak usah ragu untuk menampakkan dirimu yang sesungguhnya. Bahkan kalau ingin melakukan apapun yang kau akan kerjakan, kau bisa memaksimalkan fungsi asistenmu disini”, paparnya.

“Sungguh? Ah, tau begitu daritadi kusuruh mereka saja yang melakukannya. Trixie, bawakan semua barang-barangku sekarang!”, ujar Bella lantang. Seketika itu juga tiga buah bola cahaya kekuning berpendar mengelilingi Bella. “Lucy, ah apa harus kupanggil kak Lucy? Kenalkan ini Trixie, artificial spiritku.”

“Hai Trixie! Tolong bawakan barang-barang mastermu ini ke asrama di kumpulan koper-koper murid baru lainnya ya”, sapa Lucinda ramah. Kemudian Trixie melesat ke koper dan tas Bella dan mengitarinya. Tas dan koper itupun melayang karena dikelilingi tiga cahaya Trixie, kemudian Trixie, koper dan tas Bella melesat di udara menuju gedung asrama putri.

“Baiklah, masalah barang bawaaanmu sudah kelar” ujar Lucy saat melihat koper dan tas Bella sudah ditangani Artificial Spiritnya. Kemudian Lucy berpaling dan menghadap ke arah Bella sambil menyunggingkan senyum manisnya, “Nah anak baru! Selamat datang di Broxlortheus Academy! Pastikan kau tidak tidur sambil berdiri karena menurut keterangan yang diberikan oleh kakakmu, kau pemalas berat”.



Dan begitulah pertemuan Bella dengan Lucy, salah satu dari beberapa The Guardians. Hebatnya, tadi ketika upacara peneriman siswa baru, Bella masi bisa dengan sukses tidur sambil berdiri. Lucy yang berdiri disamping para guru menghadap para murid baru jadi tersiksa menahan tawa melihat kelakuan Bella. Dan kejadian itu membuat Lucy sukses tertawa terbahak-bahak ketika bertemu dengan Bella lagi, kali ini untuk melampiaskan tawanya yang tertunda.

“Hahaha, astaga! Tadi berdiri sambil tidur di upacara penerimaan siswa baru, sekarang apa lagi Bel? Jalan sambil tidur? Hahaha”, ujar Bela di sela-sela tawanya.

“Kak~ berhentilah tertawa, nanti perutmu sakit”, balas Bella dengan sedikit ngambek saat Lucy menertawainya terus menerus.

“Haha, aduh iyanih, duh. Maaf-maaf, iyadeh aku berhenti tertawa, hehe”, ujar Lucy sambil menyeka air matanya yang keluar karena terlalu banyak tertawa. Kemudian ia melanjutkan, “Kalau begitu apa yang kau lakukan disini? Harusnya kan sekarang anak-anak baru sudah berada di kamarnya masing-masing, bertemu dengan senior yang membimbing kamar mereka dan mulai membersihkan dan menata kamar serta barang-barang kalian kan?”

“Ah! Iyasih Kak, hanya saja aku baru sampai disini dan masih mencari kamarku”, ujar Bella sambil menoleh kekiri-kanan untuk mencari kamarnya. “Kak, tau kamar nomor 213 dimana?”

“Kamar.. berapa? 213? Hmm..”, Lucy menopang dagunya dengan sebelah tangannya, berfikir. “Itu kamar yang aku tempati dulu, ayo sini ikut aku”, papar Lucy yang kemudian dia berjalan berbelok ke koridor sebelah kiri, Bella mengikuti di belakangnya. Setelah melewati beberapa pintu, Lucy berhenti pada salah satu pintu di sebelah kanan koridor.

“Ini kamarnya”, kata Lucy sambil menunjuk pintu didepannya, kemudian ia membuka pintu itu dan masuk kedalamnya. “Ah~ kamar yang kurindukan~”

“Luce, kaukah itu?” ujar sebuah suara dari salah satu ruangan di kamar itu. Lucy menghadap ke Bella dan menatapnya bingung sambil memiringkan kepalanya sedikit. “Kau dengar suara tadi Bel?”

“Denger kok, tapi siapa ya?” jawab Bella sambil bertanya balik pada Lucy. Kemudian terdengar suara langkah kaki dari ruangan yang ada di sebelah pintu di dalam kamar itu. Langkah kaki itu ternyata berasal dari seorang gadis yang cukup tinggi, dengan rambut berwarna putih lurus sebahunya. Kemudian gadis itu menoleh dan memperlihatkan wajah manisnya dengan kulit yang putih mulus dan sepasang mata yang berwarna merah keunguan yang memikat. Gadis itu kemudian terseyum ketika melihat ke arah Lucy dan kemudian merentangkan kedua tangannya, “Luce~ Aku kangen kamu!”.

“BEEELLSSSSSS!!!!!!!!!!!!!!!” teriak Lucy kegirangan seusai gadis itu menyatakan bahwa ia merindukannya. Ia langsung berlari, melompat, dan kemudian memberikan sebuah pelukan erat pada gadis itu, sementara yang dipeluk, hanya bisa pasrah sambil menahan sedikit sesak nafas. “Huaa~ Bells! Aku kangen kamu! Kenapa nggak ngasih aku kabar selama liburan, hah?”, tanya Lucy seraya melepaskan pelukannya dari gadis itu.

“Ah, maafkan aku Luce. Kau kan tau kalau adikku juga masuk sekolah ini tahun ini, makanya aku sibuk membantunya menguruskan arsip-arsip yang dia butuhkan untuk masuk kesini sekaligus membantunya mengemasi barang-barangnya untuk dibawa kemari” papar gadis itu panjang lebar setelah Lucy melepaskan pelukannya. Kemudian gadis itu melihat ke arah Bella dan bertanya pada Lucy, “Anak ini, siapa Luce?”

“Ah, ini Bella. Dia murid baru juga disini. Kalian punya nama yang sama ya? Haha, Bella kenalkan ini Annabelle, tapi aku biasa memanggilnya Bells, dia teman sekamarku dulu, sekarang dia juga salah satu anggota The Guardians. Dia seniormu di kamar ini”, papar Lucy pada keduanya.

“Hai Bels! Boleh aku memanggilmu begitu? Panggil saja aku Anne atau Belle, terserah mau pakai kaka tau nggak. Semoga kau bisa betah denganku di kamar ini untuk setahun kedepan ya”, ujar Belle dengan gembira seraya menyalami tangan Bella.

“Ah, iya kak. Semoga saja..”

“Awas lho Bells, dia ini tukang kebo akut. Tadi aja upacara pembukaan udah tidur sambil berdiri, huahaha”, ujar Lucy cepat sambil tertawa, memotong perkataan Bella yang belum selesai bicara. Bella langsung cemberut mendengarkan komentar itu dari Lucy, dia jadi sewot sendiri, “Gimana lagi kak, emang aku sedari awal kaya gini”

“Wah, padahal tadi aku mau tanya, apa kamu lihat adikku? Dia keliatan hampir mirip sama aku kok, liat nggak?” tanya Annne penuh selidik pada Bella, yang ditanyai jadi risih sendiri karena diliatin seperti itu. “Maaf kak, nggak liat deh kayaknya. Memangnya kenapa dengan adikmu? Dia pasti bisa kan nemuin kamarnya sendiri” balas Bella.

“Bisa sih bisa, tapi bakal makan waktu yg cukup lama”, jawab Anne khawatir.

“Memangnya adikmu kenapa sih Bells kok bisa sampai kayak gitu? Sakit-sakitan dia?”

“Nggak sih Luce, cuma aja dia itu.. kelewat pemalu, kemungkinan dia buat nanya ke orang untuk minta tolong ataupun tanya ke orang lain itu.. hampir ngga pernah”, papar Anne makin khawatir dengan fakta tentang adiknya yang seperti itu. Selama beberapa detik, keheningan muncul diantara mereka bertiga dan keheningan itu berhenti ketikan Lucy menepukkan kedua tangannya. Plak!

“Ini jangan pada bengong semua kenapa? Nggak ada yang punya ide?”

“Kak Lucy, gimana kalo nyuruh Artificia Spirit kita aja? Tapi kitanya juga nyari dia”

“Boleh deh. Bells, kamu lapor ke Guardians aja ya, makin banyak yang nyari, makin cepet ketemunya adikmu itu”

“Beres deh, sekalian nanti ke ruang siaran buat ngumumin ke seantero sekolah”

“Kok, jadi kayak berburu buronan gini sih?” celetuk Bella bingung. Lucy dan Anne langsung melihat kearahnya dengan tatapan bingung, kemudian tanpa sengaja ketiganya tertawa bersama setelah menyadari betapa antusiasnya mereka untuk mencari adik Anne. “Yasudah, ayo kita mulai cari adikmu, namanya siapa?”

“Sarah. Sarah Quadmyrie. Rambutnya juga putih dan warna matanya juga sama sepertiku, ah hampir bisa dibilang duplikatku, hanya saja dia tergolong cukup pendek dan rambutnya panjang sepunggung, dan.. oh! sedikit bergelombang di ujungnya” papar Anne singkat.

“Oke! Trixie, kau sudah mendengar rincian gadis itu kan tadi? Sekarang cepat pergi dan temukan dia! Cepaattt~” ujar Bella memberikan perintah. “Ah, kau juga Slavia! Tolong cepat carikan ya!” ujar Lucy memberikan perintah juga pada Artificial Spiritnya. Kedua Artificial Spirit itupun segera melesat pergi dari tempat itu, sementara para empunya juga baru akan memulai pencarian mereka ketika sebuah garis cahaya yang bergerak gemulai bagaikan gelombang ombak berwarna biru kehijauan. Garis cahaya itu mengitari dua buah koper yang tak terlalu besar bersamanya dan membawanya masuk ke dalam kamar itu. Anne yang melihatnya pertama kali langsung terdiam dan berkata, “Loh? Itu kan..”

Tepat pada saat itu terdengar langkah kaki seseorang yang sedang berlari di koridor, dengan nafasnya yang terengah-engah karena seusai berlari, ia berhenti dan mengetuk pintu kamar 213 yang langsung membuat tiga orang didalamnya kaget ketika mendengar ada yang mengetuk pintu. Ketika mereka bertiga menoleh, disana mereka melihat seorang gadis yang lumayan pendek dengan rambut putih panjang lurus dan sedikit bergelombang di ujungnya, ketika dia melihat mereka bertiga, matanya yang berwarna merah keunguan benar-benar mirip dengan milik Anna. Ketika ia sudah bisa mengatur nafasnya, ia berkata, “Maaf terlambat Kakak”.

No comments:

Post a Comment