RIIIINNNGGGG!!!!!
Alarm
Bella berdering keras sekali, namun gadis itu sama sekali tidak bergeming dari
tidurnya. Ia masih saja terpejam, dan bahkan tidak bergerak sama sekali.
Kalaupun memang ada gerakan, itu hanyalan gerakan badannya yang naik-turun
dalam rangka bernafas untuk menunjukkan bahwa ia masih hidup. Malahan, alarm
yang sudah berdering sejak 10 menit lalu itu malah membuat Leony, kakak Bella,
masuk ke kamar Bella dengan tergesa-gesa karena dia sudah muak dengan bunyi
alarm di pagi hari yang tidak membangunkan siapapun di ruangan itu.
Kletak!, terdengar
suara yang keras ketika Leony mematikan alarm itu dengan kasar. Dengan
terheran-heran, Leony melihat ke arah adiknya yang satu itu dan berbicara
sendiri dalam hatinya, Ini adikku atau
kebo sih?, dan kemudian ia mulai membangunkan Bella dengan meneriaki gadis
itu tepat di telinganya sambil berusaha membangunkannya dengan
mengguncang-guncangkan tubuh Bella yang sama sekali tidak bergerak itu, “SUDAH
PAGI SLEEPING BEAUTY! CEPAT BANGUN
DAN KEMASI SEMUA BARANGMU SUPAYA AKU BISA TINGGAL DI RUMAH INI DENGAN
TENANG!!!”.
Sementara
itu, yang dibangunkan masih bisa dengan malas-malasan bangun dari tidurnya dan
mengatakan “Apa?”, kemudian menguap sambil masih mengusap-usap matanya. Karena
Leony segera pergi dari kamar Bella sambil mengomel-omel sendiri tentang
kemalasan tingkat dewa dari adiknya yang satu itu seusai melihat si adik yang
mulai sadarkan diri dari tidur lelapnya dan mulai mengusap-usap matanya. Namun,
sepersekian detik kemudian ketika suara Leony sudah lenyap dari kamarnya, Bella
kehilangan kesadaran lagi dan badannya mulai ambruk ke kasur untuk melanjutkan
tidurnya lagi. Zzz..
Sekarang
pukul 07.30 dan Bella baru memakai seragamnya. Padahal satu setengah jam lagi,
dia sudah harus hadir di upacara penyambutan murid baru di sekolah barunya, Broxlortheus Academy,
dan dia belum mengemasi barang-barangnya sama sekali! Padahal dia akan tinggal
disana selama satu semester dan hanya kembali ke rumahnya di Northern Aveile
Mansion pada liburan akhir semester. Tapi, namanaya juga Bella,
sekarang dia malah dengan santai menikmati sarapannya, ketika Nanny Della lewat
ia menyuruhnya untuk mengepaki barang-barang bawaannya. Leony yg melihat
kejadian itu hanya bias geleng-geleng sambil menghembuskan nafas yang lumayan
panjangmelihat kelakuan adik satu-satunya itu. “Bell, papa sama mama masukin
kamu di Broxlortheus Academy itu biar kamu bisa
mandiri. Eh sekarang belum masuk aja kamu masih malas-malasan gini, nanti
disana gimana?”
“Entahlah~”,
jawab Bella santai sambil mencomot sepotong Karage
dari piringnya.
“Kok
entahlah? Jawab yang bener deh! Aku nggak mau harus jauh-jauh ke sekolahmu cuma
dalam rangka dipanggil guru karena kamu malas-malasan terus disana”, balas
Leony sedikit jengkel dengan kelakuan adiknya itu.
“Tenang
aja kakakku sayaanngg~..”, jawab Bella lagi dan kemudian mencomot sepotong Karage lagi dan melahapnya bulat-bulat,
setelah selesai ia mengunyah dan menelannya, dia berdiri dari kursinya dan
berjalan ke arah kursi kakaknya, kemudian ia memeluk kakak perempuannya itu
dari belakang sambil berucap kembali, “Ngga bakalan sampe melebihi 3 hari aku
bakalan udah dapet temen yang sekaligus berfungsi sebagai anak buah untuk
disuruh-suruh. Multifungsi kan?”.
Untuk
sesaat, Leony hanya bisa diam sambil melotot karena kaget mendengar jawaban
dari adiknya yang tidak dia sangka-sangka itu. Dengan cepat diaberbalik dan
menjitak kepala Bella, “Dasar tuan putri tukang kebo!”.
Arloji
digital Bella kini menunjukkan waktu 15 menit menuju jam 8 pagi. Untungnya,
kini Bella sudah sampai di sekolahnya tanpa kekurangan satu barang pun
perlengkapan yang dia butuhkan nanti selama setengah semester di sekolah ini.
Dan sebenarnya semua itu tak akan terjadi jika tak ada Nanny Della dirumah.
Bagaimana bisa anak bungsu keluarga Delancy menyiapkan perlengkapannya sendiri?
Dari
tempat Bella turun dari mobilnya, terdapat sebuah gerbang raksasa, kira-kira 5
meter tingginya dengan dua buah tembok yang tak terlalu lebar, bentuknya hanya
seperti persegi panjang yang berfungsi sebagai tempat bertenggernya dua buah
gerbang raksasa itu dan diatasnya terdapat beberapa besi yang membentuk
ornament simple dan lambang sekolah tersebut yang terletak di tengahnya. Pada
tembok kanan terdapat tanda yang bertulisakan nama sekolah tersebut, “Broxlortheus Academy”.
Setelah
dua tembok yang tak terlalu lebar itu, pagar pembatas sekolah tersebut terbuat
dari besi dengan ketinggian yang sekiranya cukup untuk menahan semua murid di
dalamnya untuk kabur dari area sekolah dengan melompati pagar ini. Di bagian
bawah pagar itu terdapat tembok kecil yang tak terlalu tinggi sebagai pot
panjang yang mungkin mengelilingi seluruh pagar sekolah itu. Pada pot itu
terdapat tanaman pucuk merah yang tak terlalu tinggi, namun terlihat tertata
rapi. Namun sayangnya, pagar pembatas dan gerbang sekolah ini malah terkesan
menyeramkan karena sepertinya semua barang yang telah tersebutkan sebelumnya
terlihat sudah tua dan dililit oleh tanaman rambat.
Leony baru
saja selesai menurunkan koper Bella dan bawaan lainnya dari mobil ketika ia
melihat adiknya itu sedikit tercengang melihat bagian depan dari sekolah
tersebut. Ia hanya tertawa kecil dan menepuk pundak adiknya sambil menunjuk ke
arah dalam dari gerbang tersebut. “Nggak usah takut! Lihat deh, Cuma bagian
depannya aja yang terasa tua, tapi bagian dalamnya masih normal untuk manusia
biasa kan?”, ujarnya ketika menunjuk ke arah dalam dari gerbang tersebut.
Memang,
di dalam bangunan pelindung sekolah itu terdapat jalan setapak yang
menghubungkan gerbang dengan hall depan sekolah itu yang cukup megah. Jarah
jalan setapaknya pun tak terlalu jauh, tapi di tengah-tengahnya terdapat sebuah
putaran yang berfungsi sekaligus sebagai belokan menuju sisi kiri dan kanan
menuju beberapa gedung kecil lain yang terletak di ujung dari sisi kiri dan
kanan jalan setapak itu. Dan ditengah putaran tersebut terdapat sebuah air
mancur yang tak terlalu besar dan dikelilingi tanaman-tanaman yang cantik,
menghilangkan kesan “Horor” dari gerbang di depannya.
“Iyasih.
Tenang aja, yang kayak gini nggak serem kok!” ujar Bella setelah memandang jauh
ke depan selama beberapa saat. Leony cuma tersenyum tipis dan menutup bagasi
mobil. Setelah semua bawaan Bella diturunkan, ia berjalan menuju gerbang masuk
sambil menggeret satu kopernya, namun setelah beberapa langkah melewati gerbang
dia berhenti sejenak dan berbalik menghadap ke arah kakaknya, “Kak, ini..
Bawaanku nggak dibantuin bawa masuk nih?”, tanyanya dengan keras, sedikit
berteriak.
“Ya
enggak lah! Bawa sendiri yah~”, jawab kakaknya lantang. Kemudian dengan acuh
dan tanpa memperdulikan Bella lagi Leony langsung masuk ke mobil dan berlalu
begitu saja dengan kencangnya.
Dan kini
Bella bingung bagaimana caranya untuk membawa dua buah koper jumbo dan sebuah
tas tenteng seukuran peti harta karun. Goddamn!
Kamar nomor 213. Kamar nomor 213. Kamar nomor 213.
Itulah
dua kata tiga angka yang kini berkecamuk di otak Bella. Kenapa harus kamar nomor 213 sih? Sudah di lantai 2, angka sial pula!,
gerutunya dalam hati saat dia baru selesai menaiki anak tangga terakhir ke
lantai 2 asrama putri di sekolah itu. Untungnya
aja aku nyari kamar itu nggak sambil ngebawa dua koper jumbo sama tas raksasa
itu,batinnya lagi sambil berjalan perlahan meilhat kekiri-kanan untuk
mencari kamarnya.
Dan
sekarang dia sampai di ujung koridor lantai dua itu. Kamar yang terletak di
ujurng ruangan bertuliskan angka 210. Tiga
kamar lagi, fikirnya. Tapi ini belok
ke mana ya? Kiri atau kanan?, terkanya sambil menimbang nimbang karena di
ujung koridor tersubut terdapat dua belokan, yang satu ke kiri dan satunya lagi
ke kanan. Tepat sebelum dia berjalan ke arah kanan, seseorang menyentuh
pundaknya dan memberhentikan langkahnya. “Lho? Kau yang tadi kan?”
Bella
menoleh dan kini ia melihat seorang gadis dengan rambut sedikit ikal namun
bergelombang besar kemerahan sepunggung yang ia rasa pernah ia temui. Kapan ya?
Oh, iya sih tadi pagi! Tepat saat dengan bodohnya ia mencoba semua barang
bawaannya sendiri menuju gedung sekolah.
Disana Bella berjuang seorang diri dengan segala
daya upayanya untuk membawa semua barang bawaannya menuju bangunan utama sekolah
barunya itu. Tapi beberapa langkah setelahnya, ia berhenti bukan karena
menyerah ataupun sudah kelelahan membawa barang sebanyak itu, tapi karena di seberangnya
ada seorang gadis dengan rambut sedikit ikal namun bergelombang besar kemerahan
sepunggung berdiri disana sambil menyunggingkan seulas senyum ramah yang
menyiratkan kebanggaan atas paras dirinya yang cantik mempesona itu. Bibirnya
merah, semerah mawar, namun Bella rasa itu warna alami dari bibirnya, bukan
ulasan lipstick ataupun lipgloss. Kulitnya tidak terlalu putih, tetapi tetap
terlihat cerah dan terawat. Matanya yang bulat berwarna hijau kebiru-biruan,
membuatnya terlihat semakin cantik dengan pipi mulus yang sedikit merona. Namun
dari segala penampilan luarnya, Bella malah memperhatikan bayang-bayang di
belakang gadis itu.
Disana, di belakang gadis itu, terlihat seperti ada
bayang-bayang keunguan dengan yang berbentuk seperti selendang ombak tipis dan
transparan. Gadis itu tertawa sedikit ketika melihat Bella memfokuskan
pandangan pada baying-bayang dibelakangnya.
“Perkenalkan, ini Slavia. Artificial Spirit yang
membantuku melakukan pekerjaanku atau bisa dibilang sebagai asistenku. Kau tak
perlu memandanginya seperti itu Miss Delancy, dan juga aku kasihan pada dirimu
karena harus membawa semua barang bawaanmu dengan tanganmu sendiri. Kenapa
tidak menyuruh asistenmu sendiri, huh?”, tanya gadis itu. Eh? Darimana dia tahu
nama keluargaku? Dan, asisten? Tunggu, itu artinya aku boleh menampakkan wujud
asliku disini?, tanya Bella pada dirinya sendiri. Melihat Bella bertanya-tanya
pada dirinya sendiri, seakan juga ditanyai oleh Bella, gadis itu menjawab semua
pertanyaan dalam benak Bella. “Namaku Lucinda Rovalez murid kelas 2 disini, kau
bisa memanggilku Lucy, aku salah satu dari The Guardian disini. Yah, anggap
saja The Guardian itu seperti organisasi yang berisikan pengurus sekolah dari
muri-murid disini. Aku sudah tau tentang kepindahanmu kesini Belliana, ah, apa
taka da versi singkatnya? Dan disini, ini bukan sekolah biasa kok, disini semua
muridnya sama sepertimu, jadi tak usah ragu untuk menampakkan dirimu yang
sesungguhnya. Bahkan kalau ingin melakukan apapun yang kau akan kerjakan, kau
bisa memaksimalkan fungsi asistenmu disini”, paparnya.
“Sungguh? Ah, tau begitu daritadi kusuruh mereka
saja yang melakukannya. Trixie, bawakan semua barang-barangku sekarang!”, ujar
Bella lantang. Seketika itu juga tiga buah bola cahaya kekuning berpendar
mengelilingi Bella. “Lucy, ah apa harus kupanggil kak Lucy? Kenalkan ini
Trixie, artificial spiritku.”
“Hai Trixie! Tolong bawakan barang-barang mastermu
ini ke asrama di kumpulan koper-koper murid baru lainnya ya”, sapa Lucinda
ramah. Kemudian Trixie melesat ke koper dan tas Bella dan mengitarinya. Tas dan
koper itupun melayang karena dikelilingi tiga cahaya Trixie, kemudian Trixie,
koper dan tas Bella melesat di udara menuju gedung asrama putri.
“Baiklah, masalah barang bawaaanmu sudah kelar” ujar
Lucy saat melihat koper dan tas Bella sudah ditangani Artificial Spiritnya.
Kemudian Lucy berpaling dan menghadap ke arah Bella sambil menyunggingkan
senyum manisnya, “Nah anak baru! Selamat datang di Broxlortheus Academy!
Pastikan kau tidak tidur sambil berdiri karena menurut keterangan yang
diberikan oleh kakakmu, kau pemalas berat”.
Dan
begitulah pertemuan Bella dengan Lucy, salah satu dari beberapa The Guardians.
Hebatnya, tadi ketika upacara peneriman siswa baru, Bella masi bisa dengan
sukses tidur sambil berdiri. Lucy yang berdiri disamping para guru menghadap
para murid baru jadi tersiksa menahan tawa melihat kelakuan Bella. Dan kejadian
itu membuat Lucy sukses tertawa terbahak-bahak ketika bertemu dengan Bella
lagi, kali ini untuk melampiaskan tawanya yang tertunda.
“Hahaha,
astaga! Tadi berdiri sambil tidur di upacara penerimaan siswa baru, sekarang
apa lagi Bel? Jalan sambil tidur? Hahaha”, ujar Bela di sela-sela tawanya.
“Kak~
berhentilah tertawa, nanti perutmu sakit”, balas Bella dengan sedikit ngambek
saat Lucy menertawainya terus menerus.
“Haha,
aduh iyanih, duh. Maaf-maaf, iyadeh aku berhenti tertawa, hehe”, ujar Lucy
sambil menyeka air matanya yang keluar karena terlalu banyak tertawa. Kemudian
ia melanjutkan, “Kalau begitu apa yang kau lakukan disini? Harusnya kan
sekarang anak-anak baru sudah berada di kamarnya masing-masing, bertemu dengan
senior yang membimbing kamar mereka dan mulai membersihkan dan menata kamar
serta barang-barang kalian kan?”
“Ah!
Iyasih Kak, hanya saja aku baru sampai disini dan masih mencari kamarku”, ujar Bella
sambil menoleh kekiri-kanan untuk mencari kamarnya. “Kak, tau kamar nomor 213
dimana?”
“Kamar..
berapa? 213? Hmm..”, Lucy menopang dagunya dengan sebelah tangannya, berfikir.
“Itu kamar yang aku tempati dulu, ayo sini ikut aku”, papar Lucy yang kemudian
dia berjalan berbelok ke koridor sebelah kiri, Bella mengikuti di belakangnya.
Setelah melewati beberapa pintu, Lucy berhenti pada salah satu pintu di sebelah
kanan koridor.
“Ini
kamarnya”, kata Lucy sambil menunjuk pintu didepannya, kemudian ia membuka
pintu itu dan masuk kedalamnya. “Ah~ kamar yang kurindukan~”
“Luce,
kaukah itu?” ujar sebuah suara dari salah satu ruangan di kamar itu. Lucy
menghadap ke Bella dan menatapnya bingung sambil memiringkan kepalanya sedikit.
“Kau dengar suara tadi Bel?”
“Denger
kok, tapi siapa ya?” jawab Bella sambil bertanya balik pada Lucy. Kemudian
terdengar suara langkah kaki dari ruangan yang ada di sebelah pintu di dalam
kamar itu. Langkah kaki itu ternyata berasal dari seorang gadis yang cukup
tinggi, dengan rambut berwarna putih lurus sebahunya. Kemudian gadis itu
menoleh dan memperlihatkan wajah manisnya dengan kulit yang putih mulus dan
sepasang mata yang berwarna merah keunguan yang memikat. Gadis itu kemudian
terseyum ketika melihat ke arah Lucy dan kemudian merentangkan kedua tangannya,
“Luce~ Aku kangen kamu!”.
“BEEELLSSSSSS!!!!!!!!!!!!!!!”
teriak Lucy kegirangan seusai gadis itu menyatakan bahwa ia merindukannya. Ia
langsung berlari, melompat, dan kemudian memberikan sebuah pelukan erat pada
gadis itu, sementara yang dipeluk, hanya bisa pasrah sambil menahan sedikit sesak
nafas. “Huaa~ Bells! Aku kangen kamu! Kenapa nggak ngasih aku kabar selama
liburan, hah?”, tanya Lucy seraya melepaskan pelukannya dari gadis itu.
“Ah,
maafkan aku Luce. Kau kan tau kalau adikku juga masuk sekolah ini tahun ini,
makanya aku sibuk membantunya menguruskan arsip-arsip yang dia butuhkan untuk
masuk kesini sekaligus membantunya mengemasi barang-barangnya untuk dibawa
kemari” papar gadis itu panjang lebar setelah Lucy melepaskan pelukannya. Kemudian
gadis itu melihat ke arah Bella dan bertanya pada Lucy, “Anak ini, siapa Luce?”
“Ah, ini
Bella. Dia murid baru juga disini. Kalian punya nama yang sama ya? Haha, Bella
kenalkan ini Annabelle, tapi aku biasa memanggilnya Bells, dia teman sekamarku
dulu, sekarang dia juga salah satu anggota The Guardians. Dia seniormu di kamar
ini”, papar Lucy pada keduanya.
“Hai
Bels! Boleh aku memanggilmu begitu? Panggil saja aku Anne atau Belle, terserah
mau pakai kaka tau nggak. Semoga kau bisa betah denganku di kamar ini untuk
setahun kedepan ya”, ujar Belle dengan gembira seraya menyalami tangan Bella.
“Ah, iya
kak. Semoga saja..”
“Awas lho
Bells, dia ini tukang kebo akut. Tadi aja upacara pembukaan udah tidur sambil
berdiri, huahaha”, ujar Lucy cepat sambil tertawa, memotong perkataan Bella
yang belum selesai bicara. Bella langsung cemberut mendengarkan komentar itu
dari Lucy, dia jadi sewot sendiri, “Gimana lagi kak, emang aku sedari awal kaya
gini”
“Wah,
padahal tadi aku mau tanya, apa kamu lihat adikku? Dia keliatan hampir mirip
sama aku kok, liat nggak?” tanya Annne penuh selidik pada Bella, yang ditanyai
jadi risih sendiri karena diliatin seperti itu. “Maaf kak, nggak liat deh
kayaknya. Memangnya kenapa dengan adikmu? Dia pasti bisa kan nemuin kamarnya
sendiri” balas Bella.
“Bisa sih
bisa, tapi bakal makan waktu yg cukup lama”, jawab Anne khawatir.
“Memangnya
adikmu kenapa sih Bells kok bisa sampai kayak gitu? Sakit-sakitan dia?”
“Nggak
sih Luce, cuma aja dia itu.. kelewat pemalu, kemungkinan dia buat nanya ke
orang untuk minta tolong ataupun tanya ke orang lain itu.. hampir ngga pernah”,
papar Anne makin khawatir dengan fakta tentang adiknya yang seperti itu. Selama
beberapa detik, keheningan muncul diantara mereka bertiga dan keheningan itu
berhenti ketikan Lucy menepukkan kedua tangannya. Plak!
“Ini
jangan pada bengong semua kenapa? Nggak ada yang punya ide?”
“Kak
Lucy, gimana kalo nyuruh Artificia Spirit kita aja? Tapi kitanya juga nyari
dia”
“Boleh
deh. Bells, kamu lapor ke Guardians aja ya, makin banyak yang nyari, makin
cepet ketemunya adikmu itu”
“Beres
deh, sekalian nanti ke ruang siaran buat ngumumin ke seantero sekolah”
“Kok,
jadi kayak berburu buronan gini sih?” celetuk Bella bingung. Lucy dan Anne
langsung melihat kearahnya dengan tatapan bingung, kemudian tanpa sengaja ketiganya
tertawa bersama setelah menyadari betapa antusiasnya mereka untuk mencari adik
Anne. “Yasudah, ayo kita mulai cari adikmu, namanya siapa?”
“Sarah.
Sarah Quadmyrie. Rambutnya juga putih dan warna matanya juga sama sepertiku, ah
hampir bisa dibilang duplikatku, hanya saja dia tergolong cukup pendek dan
rambutnya panjang sepunggung, dan.. oh! sedikit bergelombang di ujungnya” papar
Anne singkat.
“Oke!
Trixie, kau sudah mendengar rincian gadis itu kan tadi? Sekarang cepat pergi
dan temukan dia! Cepaattt~” ujar Bella memberikan perintah. “Ah, kau juga
Slavia! Tolong cepat carikan ya!” ujar Lucy memberikan perintah juga pada
Artificial Spiritnya. Kedua Artificial Spirit itupun segera melesat pergi dari
tempat itu, sementara para empunya juga baru akan memulai pencarian mereka
ketika sebuah garis cahaya yang bergerak gemulai bagaikan gelombang ombak
berwarna biru kehijauan. Garis cahaya itu mengitari dua buah koper yang tak terlalu
besar bersamanya dan membawanya masuk ke dalam kamar itu. Anne yang melihatnya
pertama kali langsung terdiam dan berkata, “Loh? Itu kan..”
Tepat
pada saat itu terdengar langkah kaki seseorang yang sedang berlari di koridor,
dengan nafasnya yang terengah-engah karena seusai berlari, ia berhenti dan
mengetuk pintu kamar 213 yang langsung membuat tiga orang didalamnya kaget
ketika mendengar ada yang mengetuk pintu. Ketika mereka bertiga menoleh, disana
mereka melihat seorang gadis yang lumayan pendek dengan rambut putih panjang
lurus dan sedikit bergelombang di ujungnya, ketika dia melihat mereka bertiga,
matanya yang berwarna merah keunguan benar-benar mirip dengan milik Anna.
Ketika ia sudah bisa mengatur nafasnya, ia berkata, “Maaf terlambat Kakak”.
No comments:
Post a Comment